"Adanya kekacauan besar, adanya kebijakan-kebijakan pemerintah yang sampai hari ini tidak pro kepada rakyat dan lingkungan. Itu yang menjadi simbolik dari kata grubug agung," ungkapnya.

Wayan Sathya menambahkan, rakyat kesulitan di tengah situasi ekonomi saat ini, dan pemerintah tidak tegas terhadap oknum perusak lingkungan.

Pihaknya menegaskan akan terus melawan dan bersuara selama ada ketidakadilan.

"Kalau seandainya sampai hari ini, kondisi hari ini tidak kunjung baik-baik saja, dan tuntunan kami tidak kunjung dipenuhi.

(Kami akan menggelar aksi kembali), kita menunggu apakah pemerintah mendengarkan aksi dari kita hari ini," ujarnya.

Tiga Pernyataan Sikap Massa Aksi

Dalam aksi hari ini, massa menyampaikan tiga pernyataan sikap.

Pertama, mendesak Gubernur Bali dan DPRD Bali segera melakukan moratorium pariwisata di Bali untuk menghentikan krisis lahan dan air bersih.

Kedua, mendesak Presiden RI dan DPR RI menghentikan segala bentuk kriminalisasi dan kekerasan terhadap pejuang HAM dan lingkungan (eco defender).

>>> Meccha Chameleon Tembus 15 Juta Kopi dalam 25 Hari, Lampaui Penjualan Mario Kart World

Ketiga, mendesak Presiden RI dan DPR RI menjaga stabilitas ekonomi, menstabilkan nilai rupiah, dan menurunkan harga BBM nonsubsidi.