Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,18 persen ke level Rp17.995 per dolar AS pada perdagangan Senin (6/7) sore.

Mata uang Garuda melemah 32 poin dibandingkan penutupan sebelumnya.

>>> Hujan Deras Muson Tewaskan 14 Orang di Maharashtra

Pelemahan rupiah terjadi seiring mayoritas mata uang Asia yang juga tertekan terhadap dolar AS.

Yuan China turun 0,16 persen, peso Filipina melemah 0,11 persen, ringgit Malaysia terdepresiasi 0,17 persen, dolar Singapura melemah 0,11 persen, yen Jepang turun 0,56 persen, dan won Korea Selatan terkoreksi 0,15 persen.

Sementara itu, dolar Hong Kong menjadi satu-satunya mata uang di kawasan yang menguat tipis 0,01 persen.

Mata uang utama negara maju juga mayoritas melemah terhadap dolar AS.

Euro Eropa turun 0,11 persen, poundsterling Inggris melemah 0,04 persen, dolar Australia terkoreksi 0,05 persen, dolar Kanada turun 0,15 persen, dan franc Swiss melemah 0,20 persen.

>>> Trump Puji Harry Kane Usai Inggris Kalahkan Meksiko di Piala Dunia 2026

Sentimen Negatif Masih Membayangi

Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan sentimen terhadap rupiah masih cenderung negatif setelah Indonesia mendapat peringatan dari lembaga pemeringkat terkait potensi penurunan peringkat utang.

"Secara umum sentimen terhadap rupiah masih lemah dan tertekan sejak mendapat peringatan dari Fitch mengenai potensi penurunan peringkat kredit Indonesia," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.

com.

Menurut Lukman, pelaku pasar juga masih bersikap hati-hati menjelang sejumlah rilis data ekonomi domestik penting sepanjang pekan ini.

>>> KPK Geledah Sejumlah Lokasi Terkait Kasus Bupati Kuansing

"Investor mengantisipasi sejumlah data ekonomi domestik yang akan dirilis pekan ini, di antaranya cadangan devisa, penjualan ritel, dan indeks kepercayaan konsumen," terang Lukman.