>>> Empire State Building: Tinggi 443 Meter, Jadi Lokasi Lamaran Ekstrem Pasangan Rooftopper

Menurut penulis utama penelitian sekaligus Direktur Leverhulme Centre for Climate Change Mitigation di University of Sheffield, Profesor David Beerling, penelitian ini menawarkan cara baru dalam memandang pengelolaan lahan pertanian.

"Studi ini telah mengubah cara kita berpikir tentang pengelolaan lahan pertanian untuk keamanan iklim, pangan, dan tanah.

Studi ini membantu memajukan perdebatan tentang strategi pengurangan CO2 dari atmosfer yang masih kurang diteliti, yaitu enhanced rock weathering, sekaligus menyoroti manfaat tambahannya bagi ketahanan pangan dan kesehatan tanah," ujarnya.

Berpotensi Diterapkan di Lahan Pertanian Dunia

Menurut kumpulan indikator pembangunan World Bank pada 2022, lahan pertanian di dunia diperkirakan tercatat sebesar 47.730.613 km persegi.

Dengan cakupan tersebut, para peneliti meyakini teknologi ini berpotensi memberikan kontribusi besar dalam mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfer sekaligus mendukung sistem pangan yang lebih berkelanjutan.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa metode ini bukan pengganti upaya mengurangi emisi dari pembakaran bahan bakar fosil, melainkan pelengkap yang dapat diterapkan bersamaan dengan berbagai strategi mitigasi perubahan iklim lainnya.

David menambahkan bahwa pengurangan emisi tetap menjadi langkah utama untuk membatasi pemanasan global.

Namun, teknologi yang mampu menghilangkan CO2 dari atmosfer juga diperlukan agar dampak perubahan iklim dapat ditekan lebih cepat.

"Besarnya perubahan iklim di masa depan dapat dimoderasi dengan segera mengurangi jumlah CO2 yang masuk ke atmosfer akibat pembangkitan energi.

>>> 5 Motor Irit Bensin dan Hemat Servis, Cocok untuk Pelajar agar Orang Tua Tenang

Mengadopsi strategi seperti penelitian ini yang secara aktif menghilangkan CO2 dari atmosfer dapat memberikan dampak besar dan dapat diadaptasi dengan sangat cepat," tuturnya.