Micron, salah satu produsen RAM terbesar dunia, telah menandatangani perjanjian manufaktur dengan 16 kliennya yang akan memastikan biaya memori tetap tinggi selama lima tahun ke depan.

Langkah ini diambil di tengah gugatan class action yang menuduh Micron, Samsung, dan SK Hynix melakukan pengaturan harga (price fixing) dengan sengaja mengurangi pasokan untuk mengambil keuntungan dari lonjakan harga memori akibat AI.

>>> Direktur Pegadaian Ajak Mahasiswa Andalas Beli Masa Depan dengan Harga Hari Ini

Perjanjian Strategis Pelanggan (SCA)

Dalam panggilan pendapatan Q3, CEO Micron Sanjay Mehrotra mengungkapkan bahwa perusahaan telah menandatangani "Strategic Customer Agreements" (SCA) dengan mitra pemasok RAM.

Perjanjian ini mencakup sistem penetapan harga yang akan berlangsung selama lima tahun ke depan, dengan harga tetap atau kisaran harga berdasarkan kuartal kedua tahun ini saat RAM berada pada level tertinggi.

Mehrotra menyatakan, "SCA mempercepat transformasi model bisnis kami, meningkatkan kemitraan dalam teknologi dan inovasi, serta memberikan jaminan pasokan kontrak kepada pelanggan."

Empat belas dari 16 SCA memiliki pendapatan kumulatif minimal sekitar $100 miliar selama masa perjanjian, dan Micron memproyeksikan menerima deposit tunai serta komitmen keuangan terkait sebesar $22 miliar.

Dampak pada Harga RAM

Perjanjian ini muncul saat harga RAM diperkirakan naik 40-50% lagi pada Q3 2026. Dengan SCA, harga RAM di tingkat konsumen kemungkinan tetap tinggi hingga 2030.

>>> Redmi Note 15 5G Masih Layak Dibeli? Simak Spesifikasi Lengkap, Harga Terbaru, serta Kelebihan dan Kekurangannya

Micron sebelumnya keluar dari pasar konsumen dengan menutup merek Crucial pada Februari lalu, dan kini fokus pada kontrak manufaktur AI yang menguntungkan.

Belum jelas apakah Samsung dan SK Hynix juga akan mengadopsi model SCA serupa.

Namun, Micron memperkirakan sekitar setengah atau lebih dari total pendapatannya akan berasal dari SCA di semua segmen pasar.

Gugatan class action yang diajukan di California menuduh ketiga perusahaan secara ilegal mengoordinasikan pasokan terbatas DDR3 dan DDR4 untuk mempertahankan harga DDR5 yang tinggi.

>>> Wiraraja Indonesia Teken Kerja Sama Rp1,17 Triliun dengan Perusahaan Inggris

Ini adalah skandal pengaturan harga memori ketiga dalam 30 tahun terakhir.