>>> Hal Memberatkan Vonis 10 Tahun Nadiem: Perbuatan Terencana-Sistematis

"Yang pertama adalah untuk program ke Malaysia yang 500 ribu ton.

Mungkin dalam waktu dekat kami akan ke Malaysia untuk mendiskusikan harga yang cocok sesuai dengan penawaran," ujar Rizal.

Ia menambahkan peluang ekspor juga datang dari Singapura, Timor Leste, dan Papua Nugini (PNG).

"Tidak hanya Malaysia, ada potensi-potensi yang lain.

Ditambah lagi ke depan adanya potensi dari Singapura maupun negara-negara tetangga kita, Timor Leste maupun PNG," kata Rizal.

Khusus untuk rencana ekspor ke Singapura, Rizal memastikan Bulog telah menyiapkan stok sekitar 200 ribu ton beras premium dengan spesifikasi pecahan 5 persen.

Stok tersebut disiapkan untuk memenuhi permintaan ekspor sewaktu-waktu, termasuk rencana pengiriman awal sebanyak 10 ribu ton yang sebelumnya diusulkan pemerintah kepada Singapura.

"Yang 10 ribu ton (wacana ekspor beras ke Singapura) tersebut jadi kita sudah siapkan bareng dengan nanti proses yang untuk 500 ribu ton pesanan dari Malaysia.

Beras premium pecahan 5 persen kami sekarang stok ada sekitar 200 ribu ton standby. Kalau sewaktu-waktu diminta cepat kita bisa kirimkan," ujarnya.

Data FAO Food Outlook edisi Mei dan Juni 2026 menunjukkan Indonesia diproyeksikan menjadi produsen beras terbesar keempat di dunia, di bawah India, China, dan Bangladesh.

Di saat sejumlah negara mengalami perlambatan produksi, Indonesia mencatat tren peningkatan produksi beras.

Pemerintah menargetkan produksi beras nasional mencapai 34,77 juta ton pada 2026 dan meningkat menjadi 34,83 juta ton pada 2027, setelah realisasi produksi 2025 sebesar 34,69 juta ton.

>>> World of Warships: Legends Rayakan Hari Kemerdekaan AS dengan Kapal Perusak Baru dan Kapal Perang Indiana

Sementara itu, stok beras yang dikuasai Bulog telah mencapai sekitar 5,169 juta ton, sehingga pemerintah mulai menjajaki perluasan pasar ekspor di tengah meningkatnya produksi dalam negeri.