Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengungkapkan bahwa Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan minat untuk mengimpor beras dari Indonesia sebanyak 50 ribu ton per bulan.

Permintaan tersebut menjadi salah satu peluang ekspor yang tengah dijajaki Bulog di tengah meningkatnya produksi dan serapan beras nasional.

>>> Polri Naikkan Pangkat 87 Perwira Tinggi, Empat Jadi Komjen

"Kemarin juga Uni Emirat Arab sempat meminta, kalau enggak salah per bulannya minta 50 ribu ton.

Kalau setahun kan berarti sampai 600 ribu ton," kata Rizal dalam konferensi pers di Gudang Bulog Kanwil DKI Jakarta, Jakarta Utara, Senin (29/6).

Rizal mengatakan tingginya produksi gabah nasional tahun ini membuat Bulog mampu meningkatkan penyerapan beras secara signifikan.

Hingga akhir Juni tahun ini, Bulog telah menyerap lebih dari 3,2 juta ton beras atau sekitar 80 persen dari target pengadaan 4 juta ton.

"Serapan sampai bulan Juni ini sudah mencapai 80 persen dari total target 4 juta ton berarti lebih dari 3,2 juta ton.

Ini masih ada enam bulan lagi ke depan.

Jadi prediksi kami serapan kami mungkin bisa di atas 4,5 (juta ton) atau bahkan sampai 5 juta ton," ujarnya.

Menurut Rizal, peningkatan serapan tersebut membuat Bulog perlu memperluas penyaluran beras, tak hanya untuk kebutuhan domestik tetapi juga melalui ekspor.

"Serapan yang tinggi ini perlu adanya pengeluaran.

Pengeluaran ini salah satunya selain untuk pengeluaran di dalam negeri kita juga fokus untuk ekspor ke luar negeri," katanya.

Ekspor ke Malaysia dan Negara Lain

Selain UEA, Bulog juga tengah menjajaki ekspor ke Malaysia.

Dalam waktu dekat, Bulog berencana bertemu dengan pihak Malaysia untuk membahas penawaran ekspor hingga 500 ribu ton beras.