Bursa Efek Indonesia (BEI) membeberkan langkah-langkah yang diambil untuk meredam gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah ketidakpastian pasar keuangan sepanjang tahun lalu.

Direktur Utama BEI Jeffery Hendrik menyatakan bahwa pasar modal Indonesia sukses melewati periode volatilitas tinggi pada awal 2025.

>>> Prediksi Jerman vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Die Mannschaft Diunggulkan

Memasuki paruh kedua tahun lalu, kondisi pasar mulai pulih seiring membaiknya sentimen global dan kebijakan domestik yang mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Kombinasi faktor tersebut berhasil menjaga stabilitas pasar sekaligus meningkatkan kembali kepercayaan investor," kata Jeffery dalam konferensi pers usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BEI 2026 secara daring, Senin (29/6).

Pemulihan itu tercermin dari IHSG yang mencatat 24 kali rekor tertinggi sepanjang 2025, dengan level tertinggi mencapai 8.711.

Kapitalisasi pasar juga menembus rekor baru sebesar Rp16.004 triliun pada 8 Desember 2025.

Rata-rata nilai transaksi harian saham mencapai Rp18,1 triliun, sedangkan transaksi produk non-saham tercatat Rp7,6 triliun.

Pasar obligasi melalui mekanisme Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA) membukukan volume transaksi Rp1.375 triliun, sementara perdagangan di Bursa Karbon mencapai Rp36,37 miliar.

Inovasi dan Edukasi Dorong Pertumbuhan Investor

Jeffery menambahkan BEI terus memperkuat ekosistem pasar modal melalui inovasi produk, pengembangan layanan, dan digitalisasi untuk menjaga kepercayaan investor.

Upaya tersebut mendorong jumlah investor pasar modal meningkat menjadi 20,3 juta, tumbuh 37 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

>>> Pegadaian Borong Tiga Emas di Contact Center World Asia Pacific 2026

Pengguna aplikasi IDX Mobile bertambah menjadi 463 ribu, didukung lebih dari 49 ribu kegiatan edukasi dan keberadaan 1.015 Galeri Investasi di berbagai daerah.