Pelecehan digital atau technology-facilitated abuse semakin menjadi ancaman serius di era digital.

Tidak hanya berdampak di dunia maya, penyalahgunaan teknologi kini terbukti mampu memengaruhi kesehatan mental, hubungan sosial, karier, hingga pendidikan korban.

>>> 8 HP Fast Charging Termurah 2026, Isi Daya Ngebut Mulai Rp1 Jutaan

Sayangnya, banyak korban masih memilih diam karena tidak mengetahui ke mana harus mencari bantuan.

Temuan ini terungkap dalam laporan terbaru Kaspersky yang melibatkan 7.600 responden dari 19 negara.

Dampak Psikologis dan Sosial yang Nyata

Hasil riset menunjukkan bahwa dampak pelecehan digital jauh melampaui layar perangkat.

Di kawasan Asia Pasifik, sekitar 80 persen responden mengakui bahwa pelecehan digital dapat memicu trauma, depresi, stres berkepanjangan, hingga isolasi sosial.

Namun, pemahaman masyarakat terhadap dampak lainnya masih relatif rendah.

Hanya 59 persen responden yang menyadari adanya risiko kerugian ekonomi, sementara 53 persen memahami bahwa pelecehan digital juga dapat berujung pada ancaman fisik di dunia nyata.

Dalam praktiknya, penyalahgunaan teknologi berpotensi berkembang menjadi kekerasan secara langsung. Hal ini membahayakan keselamatan korban serta menimbulkan gangguan kesehatan akibat tekanan psikologis jangka panjang.

>>> Google: RUU Hak Cipta Berisiko Hambat AI dan Ekonomi Digital Indonesia

Laporan tersebut juga mengungkap berbagai konsekuensi yang dialami korban.

Sebanyak 55 persen korban di Asia Pasifik mengaku menjadi lebih berhati-hati saat beraktivitas di internet, sementara 25 persen memilih mengurangi kehadiran mereka di ruang digital.

Dampak lainnya bahkan lebih serius.

Sebanyak 18 persen korban membatasi komunikasi dengan keluarga maupun teman dekat, sekitar 12 persen mengakhiri hubungan pribadi, empat persen kehilangan atau meninggalkan pekerjaan, dan tiga persen terpaksa putus sekolah akibat tekanan yang dialami.

Banyak Korban Pelecehan Digital Memilih Diam

Meski dampaknya sangat besar, Kaspersky menemukan sebagian besar korban belum memanfaatkan layanan pendampingan maupun bantuan resmi.

Sebanyak 13 persen korban di Asia Pasifik mengaku tidak mengambil tindakan apa pun setelah mengalami pelecehan digital.

>>> Galaxy Buds4 Pro Andalkan AI dan Sensor Fusion untuk Panggilan Jernih

Fenomena serupa juga terjadi pada para saksi. Sebanyak sembilan persen responden yang mengetahui orang terdekatnya mengalami pelecehan digital memilih tidak melakukan apa pun.