Sebuah studi baru yang melibatkan aksi menggelitik kera besar telah memberikan wawasan tentang evolusi tawa dan kemampuan vokal manusia.

Penelitian yang diterbitkan di jurnal Communications Biology ini membandingkan pola tawa antara manusia dan beberapa spesies kera besar, termasuk orangutan, gorila, bonobo, dan simpanse.

>>> Kekeringan Parah Picu Ratusan Lubang Raksasa di Lahan Pertanian Turki

Hasilnya menunjukkan bahwa manusia memiliki variasi tawa paling banyak, mampu beralih antara cekikikan dan tawa keras, serta mengubah tempo sesuai situasi.

Sementara itu, kera besar cenderung mempertahankan pola dan tempo tawa yang tetap.

Tawa sebagai Jendela Evolusi Vokal

"Saya pikir kita bisa mengatakan kita adalah master tawa," kata Chiara De Gregorio, peneliti dari University of Warwick dan rekan penulis studi, kepada The New York Times.

Ia mencontohkan kemampuan manusia untuk tertawa kecil di depan Ratu Inggris, lalu tertawa lepas bersama teman-teman di pub, bahkan tertawa palsu untuk menunjukkan lelucon tidak lucu.

Para peneliti mencatat bahwa tawa adalah bentuk ekspresi vokal non-linguistik universal pada manusia dan dimiliki oleh semua kera besar, sehingga menjadi alat yang berharga untuk menelusuri evolusi kontrol vokal yang akhirnya memungkinkan bahasa.

Dalam eksperimen, mereka merekam tawa 13 kera muda di penangkaran dan empat anak manusia (tanpa orang dewasa) saat digelitik.

Menariknya, saat digelitik, semua spesies primata tertawa secara isokron, atau dengan interval teratur, seperti mengikuti irama.

>>> Putra Polisi Korban 9/11 Lulus Jadi Anggota NYPD, Pakai Nomor Lencana Sang Ayah

Jeda antara setiap "ha" konsisten. Namun, pola ini berubah saat tawa terjadi dalam permainan, menjadi kurang teratur karena subjek bergerak lebih banyak.