Setiap pemain Destiny pasti punya cerita sendiri tentang game ini. Salah satu yang paling berkesan adalah saat mendapatkan Gjallarhorn, roket legendaris yang mendominasi tahun pertama Destiny.

Seorang anggota tim raid kami mendapatkannya dengan cara tak biasa: berhenti di depan peti harta di Vault of Glass, lalu menembakkan seluruh roket ke peti tersebut.

>>> Hal Terbaik dari Avatar: The Last Airbender Season 2 Justru yang Paling Dikhawatirkan Penggemar

Saat dibuka, muncullah Gjallarhorn.

Selama berminggu-minggu, lima anggota raid lainnya melakukan hal yang sama, berharap peti itu memuntahkan senjata paling didambakan di Destiny.

Destiny dirilis pada September 2014, dan dalam hitungan hari terlihat jelas bahwa game ini bukanlah yang diimpikan pemain, juga bukan yang dijanjikan Bungie.

Ceritanya, jika bisa disebut demikian, berakhir terlalu cepat. Karakter mencapai level maksimal 20 dalam beberapa hari, dan seolah tak ada lagi yang bisa dilakukan.

Sebuah jendela pop-up setelah level 20 mengisyaratkan tujuan baru: mengejar Light, ukuran kekuatan sejati Guardian. Namun satu-satunya cara meningkatkannya adalah dengan memainkan misi yang sama berulang kali.

Sistem Loot yang Kejam

Tanpa konten baru, Bungie memberikan kesulitan tinggi dan sistem loot acak yang pelit. Nightfall Strike mingguan, misalnya, menawarkan loot terbaik dengan peluang menjatuhkan perlengkapan legendaris dan eksotis.

Namun musuh sering muncul satu atau dua level di atas batas maksimal pemain, dan jika seluruh tim mati, mereka akan dikembalikan ke orbit dan harus memulai dari awal.

Tidak heran pemain berusaha curang.

Salah satu bos Nightfall bisa dibunuh dengan bersembunyi di bawah platform dan menembak melalui celah kecil menggunakan Ice Breaker, sniper yang amunisinya pulih otomatis.