Indonesia menghadapi tantangan besar dalam pengendalian diabetes.

International Diabetes Federation (IDF) mencatat sekitar 20,4 juta orang dewasa di Indonesia hidup dengan diabetes pada 2024.

>>> Menkeu Buka Peluang Kaji Ulang Pajak JHT, KSPI Desak Pencairan BPJS Ketenagakerjaan Bebas PPh

Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penderita diabetes dewasa terbesar kelima di dunia. Jumlah itu diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 28,6 juta orang pada 2050.

Tingginya angka penderita diabetes juga diperparah oleh sekitar 15 juta orang dewasa yang diperkirakan belum mendapatkan diagnosis.

Kondisi ini mendorong perlunya penguatan deteksi dini, kesinambungan terapi, serta pengelolaan penyakit yang tidak hanya berfokus pada pengendalian gula darah.

Kolaborasi dan Terapi Baru

Menjawab tantangan tersebut, Korean Diabetes Association (KDA) bersama Daewoong Pharmaceutical Indonesia dan Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) memperkuat kolaborasi penelitian dan pendidikan medis melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU).

Pada kesempatan yang sama, Daewoong meluncurkan enavogliflozin 0,3 mg di Indonesia sebagai terapi golongan SGLT2 inhibitor untuk diabetes melitus tipe 2 yang dikembangkan secara mandiri.

Peluncuran terapi baru tersebut berlangsung dalam rangkaian Forum Endokrinologi Nasional Ke-14 dan Pertemuan Ilmiah Tahunan PERKENI 2026 di Bandung, Jawa Barat, pada 26-28 Juni 2026.

Kegiatan itu mempertemukan sekitar 500 dokter endokrinologi, dokter spesialis penyakit dalam, dan tenaga kesehatan dari berbagai daerah di Indonesia.

Melalui simposium ilmiah, Daewoong memaparkan hasil penelitian mengenai efektivitas terapi SGLT2 inhibitor pada pasien diabetes tipe 2 di Asia.

Perusahaan juga menyoroti karakteristik pasien Asia yang kerap memiliki resistensi insulin dan obesitas abdominal meski memiliki indeks massa tubuh relatif lebih rendah dibanding populasi Barat.