Ketua Umum PERKENI, Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.

PD, K-EMD, mengatakan peluncuran enavogliflozin 0,3 mg menghadirkan alternatif terapi baru bagi pasien diabetes di Indonesia sekaligus membuka ruang diskusi ilmiah mengenai strategi pengelolaan diabetes tipe 2 yang lebih efektif sesuai karakteristik masyarakat Indonesia.

"Indonesia menghadapi peningkatan beban diabetes yang signifikan sehingga kolaborasi antara tenaga kesehatan, organisasi profesi, akademisi, dan industri menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan serta menghasilkan luaran kesehatan jangka panjang yang lebih baik bagi pasien," ungkapnya di Bandung, Minggu (28/6/2026).

>>> Cara Cek Jadwal Penyaluran Dana Bansos PKH dan BPNT Tahap 3 Juli 2026

Pada sesi ilmiah, Prof. Yong-ho Lee dari Division of Endocrinology and Metabolism, Yonsei University Severance Hospital, Korea Selatan, memaparkan bukti klinis terapi tersebut pada pasien diabetes tipe 2 di Asia.

Ia menjelaskan pemilihan terapi bagi pasien Asia tidak cukup hanya mempertimbangkan kemampuan menurunkan kadar glukosa darah, tetapi juga harus memperhatikan dampaknya terhadap berat badan, resistensi insulin, serta risiko komplikasi metabolik.

Sementara itu, Prof. Dr. dr. Hikmat Permana, Sp.

PD, K-EMD dari Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung turut membahas relevansi penerapan terapi tersebut dalam praktik klinis di Indonesia.

Diskusi ilmiah dipandu oleh Prof. So-hun Kim dari Inha University Hospital, Korea Selatan, bersama Prof. dr. Putu Moda Arsana, Sp.

PD-KEMD, FINASIM dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.

Ketua Korean Diabetes Association, Prof. Sung-rae Kim, menegaskan penandatanganan MoU menjadi langkah strategis untuk mempererat hubungan akademik antara komunitas medis Korea Selatan dan Indonesia.

"Kedua organisasi memiliki visi yang sama dalam meningkatkan kualitas pelayanan diabetes melalui penelitian ilmiah, pertukaran pengetahuan, dan pendidikan berkelanjutan," ujarnya.