Generasi muda kembali mendapat ruang untuk menghadirkan inovasi yang berdampak langsung terhadap pengembangan ekonomi desa.

Melalui program Genera-Z Berbakti 2026, Bakti BCA menantang mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk merancang solusi yang dapat memperkuat daya saing desa wisata sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

>>> Roy Suryo Ajukan Praperadilan, Ini Deretan Tuntutannya

Kompetisi tahun ini menghadirkan perubahan signifikan pada sistem penjurian.

Delapan tim finalis tidak hanya dituntut memiliki gagasan yang inovatif, tetapi juga harus mampu menunjukkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi melalui tiga tahapan seleksi yang lebih kompetitif, yakni Idea Pitch, Think Tank, dan Head to Head.

Pada tahap Idea Pitch, setiap tim memperoleh waktu 10 menit untuk mempresentasikan rancangan program yang akan diterapkan di desa wisata tujuan.

Selanjutnya pada sesi Think Tank, peserta harus menjawab pertanyaan panelis hanya dalam waktu 60 detik, disusul kesempatan memberikan tanggapan singkat apabila mendapat respons lanjutan dari panelis.

Adapun pada babak Head to Head, para finalis saling menguji kekuatan ide melalui adu argumen, tanya jawab, dan pembelaan terhadap solusi yang mereka tawarkan.

Perubahan paling mencolok tahun ini adalah diterapkannya aturan bahwa setiap tahapan wajib diwakili oleh anggota tim yang berbeda.

Kebijakan tersebut memberi kesempatan yang sama kepada seluruh anggota tim untuk menunjukkan kapasitas kepemimpinan, kemampuan komunikasi, dan penguasaan materi di hadapan panelis.

Tessa dari tim DESA HIDUP Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung mengaku sempat gugup ketika mengetahui aturan baru tersebut.

"Pengalaman ini justru menjadi momen berharga untuk membuktikan kemampuan dirinya dalam menjawab berbagai pertanyaan panelis secara meyakinkan," katanya, Minggu (28/6/2026).