Mengadaptasi video game populer ke dalam film bukanlah tugas mudah, terutama ketika pengalaman asli sangat bergantung pada gameplay.

Untuk Sekiro: No Defeat, sutradara Kenichi Kutsuna menganggap menjaga nuansa pertarungan sama pentingnya dengan menceritakan ulang narasi Sekiro: Shadows Die Twice.

>>> Kreator Dragon Striker Ingin Ciptakan Genre Anime Baru dengan Menggabungkan Sepak Bola dan Sihir

Berbicara kepada Polygon di Annecy International Animation Film Festival, tempat Sekiro: No Defeat tayang perdana, Kutsuna mengungkapkan bahwa satu mekanisme gameplay menjadi fondasi adegan aksi anime: sistem guard khas game tersebut.

Mekanisme Guard Dihidupkan Kembali

Tidak seperti banyak adaptasi video game yang hanya menceritakan ulang kisah, Kutsuna ingin penonton merasakan pertarungan seperti yang dialami pemain dalam game aksi besutan FromSoftware.

“Salah satu elemen terbesar yang saya masukkan ke dalam film adalah guard yang ada di game,” kata Kutsuna.

Ia menjelaskan bahwa penonton dapat mengenali blok yang berhasil melalui visual dan desain suara film.

“Saat menonton film, Anda benar-benar bisa melihat melalui suara dan gambar di mana ada guard dan di mana tidak ada.”

Sistem guard dan posture adalah salah satu mekanisme gameplay yang mendefinisikan Sekiro: Shadows Die Twice, yang memberi penghargaan pada deflection yang tepat waktu alih-alih menghindar tradisional, menciptakan pertarungan pedang yang menegangkan.

Menangkap Kesulitan Boss Fight ala FromSoftware

Kutsuna juga ingin anime ini menghadirkan ciri khas lain Sekiro: perjuangan yang dirasakan pemain saat mengalahkan boss yang terkenal sulit.

Alih-alih sekadar menampilkan aksi bergaya, sutradara berfokus membuat setiap pertarungan terasa menantang dan diperoleh dengan susah payah.

“Saya benar-benar memikirkannya dan melalui penceritaan, kami mencoba membuat penonton merasakan kesulitan ini, seperti setelah adegan pertarungan orang akan berkata, ‘Ya Tuhan, saya benar-benar menonton sesuatu yang terasa sulit’,” ujarnya.