Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras kepada Iran.

Ia memperingatkan bahwa Republik Islam Iran bisa 'tidak akan ada lagi' jika AS terpaksa menyelesaikan perang secara militer.

>>> KPK Dalami Setoran Ilegal di Loket Imigrasi Bali untuk Izin Tinggal WNA

Peringatan tersebut muncul setelah pesawat tempur AS menyerang sejumlah target strategis Iran. Serangan itu merupakan respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Teheran.

Melalui akun Truth Social, Trump menegaskan bahwa serangan dilakukan karena Iran kembali melanggar Perjanjian Gencatan Senjata. Ia menyindir Iran belum juga belajar dari konflik sebelumnya.

"Sangat mungkin mereka tidak akan pernah belajar!" tulis Trump.

Ia juga mengingatkan bahwa kesabaran Washington ada batasnya jika serangan Iran terus berlanjut.

Trump menyatakan bahwa AS bisa mencapai titik di mana mereka tidak lagi bersikap masuk akal.

>>> Jadwal Lengkap 32 Besar Piala Dunia 2026: Ada Final Kepagian

"Mungkin kami akan dipaksa menyelesaikan secara militer pekerjaan yang telah kami mulai dengan sangat sukses," ujarnya.

Ancaman paling keras dilontarkan Trump dengan menyebut keberadaan Iran bisa berakhir. "Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi!"

tegasnya.

Serangan Balasan AS dan Ketegangan di Selat Hormuz

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menjelaskan operasi militer terbaru menyasar lokasi penyimpanan rudal, gudang drone, dan fasilitas radar pantai milik Iran.

Serangan dilakukan setelah Iran menyerang sebuah kapal tanker berbendera Panama di dekat Selat Hormuz.

>>> PDUI dan CT ARSA Foundation Jalin Kerja Sama Perkuat Peran Dokter Umum

Aksi saling serang ini menunjukkan situasi keamanan di Timur Tengah kembali memanas. Ketegangan terbaru meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling vital di dunia.