Kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang baru disepakati sepekan lalu kembali berada di ujung tanduk.

Kedua negara kini saling menuduh melanggar komitmen damai setelah insiden di Selat Hormuz.

>>> Hyundai Makin Agresif, Ekspor dari Indonesia Tembus Ribuan Unit pada Mei 2026

Konflik terbaru dipicu serangan terhadap sebuah kapal kargo berbendera Singapura yang melintas di Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis itu merupakan salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.

Pemerintah AS menilai serangan tersebut merupakan tindakan agresif Iran terhadap pelayaran komersial. Tuduhan itu dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati kedua negara.

Sebagai respons, Komando Pusat AS melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Iran pada Kamis (25/6) waktu setempat.

Sasaran meliputi lokasi penyimpanan rudal, drone, serta radar pantai.

Komando Pusat AS menegaskan operasi tersebut dilakukan untuk menjaga keamanan jalur pelayaran internasional. Mereka menilai aksi Iran telah mengganggu kebebasan navigasi di koridor perdagangan vital.

"Agresi yang tidak beralasan terhadap pelayaran komersial oleh pasukan Iran jelas melanggar gencatan senjata," demikian pernyataan Komando Pusat AS.

"Perilaku berbahaya Iran telah merusak kebebasan navigasi."

Situasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa kesepakatan damai yang diumumkan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian berpotensi gagal dipertahankan.

Pekan lalu, kedua pemimpin menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali pelayaran di Selat Hormuz.

>>> Iran Desak FIFA Hentikan Perlakuan Semena-mena AS di Piala Dunia 2026

Memanasnya situasi membuat hubungan kedua negara kembali memburuk hanya beberapa hari setelah kesepakatan itu diumumkan.

Saat ditanya mengenai kemungkinan konsekuensi bagi Iran, Trump memberi sinyal akan ada langkah lanjutan dari Washington.