Perdebatan antara menggunakan dana untuk investasi atau membeli rumah tunai kembali mencuat, terutama di kalangan generasi muda.

Guru Besar Universitas Indonesia Rhenald Kasali menilai tidak ada jawaban tunggal atas dilema tersebut.

in1

>>> HGI Jakarta Domino Tournament 2026 Cetak Sejarah dengan Lebih dari 1.000 Peserta

Menurutnya, keputusan finansial tidak hanya ditentukan oleh potensi keuntungan investasi, tetapi juga mempertimbangkan likuiditas aset, perubahan nilai uang, hingga kenyamanan psikologis.

Dalam video yang diunggah melalui kanal resminya, Rhenald menjelaskan semakin banyak anak muda yang memilih memiliki dana tunai untuk diinvestasikan dibandingkan membeli rumah secara tunai.

Pilihan itu didorong anggapan bahwa dana investasi dapat terus berkembang sekaligus memberikan fleksibilitas keuangan.

“Lagi ramai perbincangan di antara anak-anak muda. Mana yang lebih baik?

Punya uang tunai Rp1 miliar lalu diinvestasikan, sementara rumahnya ngontrak dulu, atau langsung membeli rumah secara tunai?” ujar Rhenald.

Ia mengatakan sebagian besar generasi muda cenderung memilih menyimpan dana untuk investasi karena dinilai mampu menghasilkan imbal hasil, bahkan menjadi modal membuka usaha.

“Banyak sekali yang mengatakan lebih baik saya punya uang Rp1 miliar di tangan, saya bisa investasikan, dapat keuntungan lagi, rumah ngontrak saja.

Jadi uang itu dijadikan modal untuk investasi,” katanya.

Nilai Uang Terus Berubah

Meski demikian, Rhenald mengingatkan keputusan hanya memegang uang tunai juga memiliki risiko. Salah satunya adalah penurunan daya beli akibat kenaikan harga aset dari waktu ke waktu.

>>> Baru Sehari Kesepakatan Damai, Israel Serang Wilayah Selatan Lebanon

Menurut dia, uang yang disimpan tanpa strategi investasi yang tepat belum tentu mampu mengejar kenaikan harga properti dalam beberapa tahun ke depan.