Ironi Panen Raya 2026: Beras Justru Jadi Penyumbang Inflasi Rutin

Komoditas beras telah menjadi penyumbang inflasi rutin selama lima bulan berturut-turut pada tahun 2026. Tren ini terjadi secara konsisten dari Januari hingga Mei.
Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia (AEPI) Khudori menyebut kondisi ini ironis.
>>> Bareskrim Bongkar Markas Judol Hayam Wuruk, 287 WNA Jadi Tersangka
Pasalnya, kenaikan harga berlangsung di tengah masa panen raya yang berlangsung dari Februari hingga Mei.
Menurut Khudori, produksi beras yang melimpah seharusnya mampu menekan harga. Namun, kenyataan di lapangan justru sebaliknya.
"Sesuai hukum besi pasokan-permintaan, pasokan melimpah mestinya harga menjadi terkendali. Bahkan ada peluang harga beras turun dan inflasi jinak atau malah menjadi penyumbang deflasi.
Tapi tahun ini tidak terjadi," jelas Khudori dalam keterangan tertulis, Jumat (26/6/2026).
Khudori menilai narasi publik yang menyebut stabilitas beras terjaga hanya separuh benar. Fakta di lapangan menunjukkan harga komoditas ini stabil pada level tinggi dan terus merangkak naik.
"Yang benar adalah harga beras stabil tinggi dan terus naik.
Dan yang benar juga, adalah beras terus menjadi penyumbang inflasi selama lima bulan berturut-turut, meski bukan penyumbang yang utama," katanya.
Khudori mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis 2 Juni lalu. Data tersebut merinci kenaikan harga dari April ke Mei di tingkat penggilingan, grosir, maupun pengecer.
>>> Calon Manajer Kopdes Merah Putih Meninggal Bertambah Jadi Lima Orang Saat Latsarmil
Harga beras di tingkat penggilingan tercatat mengalami kenaikan tahunan paling besar, mencapai 8,1 persen.
Sementara itu, tingkat grosir dan eceran masing-masing mencatat lonjakan tahunan sebesar 6,11 persen dan 4,55 persen.
Khudori menjelaskan dua dampak dari kondisi ini.
Pertama, meskipun persentase kenaikan kecil, jika harga pangan lain juga naik, daya beli warga miskin dan rentan akan terpukul.
Kedua, harga beras yang sudah tinggi membuat kenaikan selanjutnya tidak terlalu besar. Namun, tetap memberatkan konsumen.
Sebelumnya, pemerintah mengakui harga beras belum turun signifikan meski stok di Bulog mencapai sekitar 5,3 juta ton.
Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Suwandi mengatakan harga beras tidak selalu mengikuti teori permintaan dan penawaran.
>>> Oprah Winfrey, Taylor Swift, dan Clive Davis Jadi Sorotan di 'Stars and Scars'
"Kalau teori ekonomi, ketika stok banyak harusnya harga turun. Tetapi untuk beras tidak selalu demikian," kata Suwandi dalam konferensi pers, Rabu (17/6/2026).
Update Terbaru
10 Alasan Sistem Pendidikan Finlandia Jadi yang Terbaik di Dunia
Sabtu / 27-06-2026, 16:16 WIB
Aldi Taher Buka Gerai Ayam Goreng Basah, Target Ekspansi hingga Makkah
Sabtu / 27-06-2026, 16:16 WIB
vivo TWS 5 Pro Resmi dengan ANC 60dB, DAC Hi-Fi, dan Baterai 50 Jam
Sabtu / 27-06-2026, 16:16 WIB
Cara Cek BPJS PBI Aktif atau Tidak Tahun 2026 Lewat HP
Sabtu / 27-06-2026, 16:16 WIB
Pemutihan BPJS Kesehatan dan Program REHAB, Ini Perbedaan serta Syarat Lengkapnya
Sabtu / 27-06-2026, 16:16 WIB
Transfer ke Arsenal Bikin Declan Rice Naik Level, Calon Kapten Inggris
Sabtu / 27-06-2026, 16:11 WIB
Prancis Hancurkan Norwegia 4-1, Dembélé Cetak Hattrick
Sabtu / 27-06-2026, 16:07 WIB
Cara Cek Pencairan 2 Jenis Bantuan Sosial Tambahan yang Masuk ke Rekening Juni 2026
Sabtu / 27-06-2026, 16:07 WIB
10 Aplikasi Penghasil Uang Terpercaya Cair ke DANA di 2026
Sabtu / 27-06-2026, 16:06 WIB
Israel Akan Tarik Pasukan dari Dua Wilayah di Lebanon
Sabtu / 27-06-2026, 16:01 WIB
Daftar 27 Tim Lolos 32 Besar Piala Dunia 2026, Tersisa 5 Tiket
Sabtu / 27-06-2026, 16:01 WIB
Vivo X300 vs X300 Ultra: Pilih Flagship Compact atau Premium?
Sabtu / 27-06-2026, 16:01 WIB
Fakta dan Sebaran 5 Peserta Latsarmil Kopdes/Kampung Nelayan yang Meninggal
Sabtu / 27-06-2026, 16:01 WIB
Menkomdigi Imbau Waspada Aplikasi Kencan Usai Viral Kasus Penyiksaan YTR
Sabtu / 27-06-2026, 16:00 WIB






