Program beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dinilai belum mampu meredam kenaikan harga beras di pasaran.

Penilaian itu didasarkan pada rendahnya realisasi penyaluran beras SPHP dalam beberapa bulan terakhir.

in1

>>> INDF dan ICBP Bagikan Dividen, Anthoni Salim Berpotensi Raup Rp3,7 Triliun

Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia (AEPI), Khudori, mengungkapkan data internal Perum Bulog menunjukkan penyaluran beras SPHP sepanjang tahun ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Merujuk data Bulog, dari Maret hingga 20 Juni 2026 penjualan beras SPHP hanya mencapai 361.667 ton atau rata-rata 3.229 ton per hari.

Volume penjualan beras SPHP ini menurun dibandingkan tahun lalu," kata Khudori dalam keterangan tertulis, Sabtu (27/6/2026).

Menurut Khudori, rendahnya penetrasi beras SPHP mengindikasikan adanya persoalan, baik pada mekanisme distribusi maupun kualitas beras yang disalurkan.

Stok Beras Bulog dan Masalah Kualitas

Ia mengutip pernyataan Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto dalam rapat dengar pendapat bersama Kementerian Pertanian pada 10 Juni 2026.

Dalam rapat tersebut disebutkan sekitar 1,3 juta ton dari total 5 juta ton stok beras yang dikelola Bulog telah berusia lebih dari satu tahun.

"Berdasarkan keterangan Ketua Komisi IV DPR RI, ada sekitar 1,3 juta ton beras Bulog yang usianya telah melewati satu tahun," ujarnya.

Khudori menambahkan, berdasarkan keterangan Komisi IV DPR RI, sebagian beras di gudang Bulog telah mengalami perubahan warna menjadi putih kusam.

>>> Pesona Selebriti di Bawah Sinar Matahari Musim Panas Juni 2026

Bahkan, Titiek Soeharto mengusulkan agar stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang telah berusia lebih dari satu tahun dialihkan menjadi pakan ternak.