Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi ajang olahraga terbesar, tetapi juga penggerak ekonomi global. Industri taruhan olahraga diproyeksikan bernilai lebih dari US$50 miliar atau sekitar Rp897 triliun.

Mengutip Reuters, lembaga riset Macquarie mencatat lonjakan 43% dibandingkan estimasi US$35 miliar pada Piala Dunia 2022 di Qatar.

in1

>>> Kemenhan Buka Suara soal 5 Peserta SPPI Meninggal saat Latsarmil

Peningkatan ini didorong bertambahnya jumlah pertandingan, meluasnya legalisasi taruhan, dan ekspansi platform digital.

Peningkatan nilai transaksi diperkirakan terjadi bahkan sebelum turnamen memasuki fase gugur. Para pelaku industri menilai edisi 2026 berpotensi menjadi penyelenggaraan Piala Dunia dengan aktivitas taruhan terbesar sepanjang sejarah.

Dua Faktor Pendorong Lonjakan Ekonomi

Pertama, FIFA memperluas jumlah peserta dari 32 menjadi 48 negara. Total pertandingan meningkat dari 64 menjadi 104 laga, memperbesar jumlah pasar taruhan dan memperpanjang periode transaksi.

Kedua, perubahan regulasi di Amerika Serikat membuat industri taruhan olahraga berkembang pesat.

Macquarie mencatat akses masyarakat terhadap taruhan legal meningkat menjadi sekitar 65% populasi, dibandingkan sekitar 40% saat Piala Dunia 2022.

Kombinasi kedua faktor tersebut membuat volume taruhan global diperkirakan melampaui seluruh edisi Piala Dunia sebelumnya.

Operator Taruhan Berebut Pasar Global

Perusahaan taruhan daring terbesar, Flutter Entertainment, memperkirakan Piala Dunia 2026 menjadi momentum bisnis terbesar sepanjang sejarah perusahaan.

Flutter membawahi merek seperti FanDuel, Paddy Power, Betfair, Sisal, Sportsbet, dan Sky Bet.

“Kami memperkirakan Piala Dunia kali ini menjadi ajang taruhan terbesar sepanjang sejarah karena format turnamen yang diperluas, ditambah sebagian pertandingan berlangsung di Amerika Serikat yang merupakan pasar utama kami,” ujar juru bicara Flutter.

>>> Selisih Umur Rio Alief NOAH dan Aqila Hakim Berapa? Inilah Biodata Additional Drummer NOAH yang Resmi Bertunangan