Sebuah studi baru dari para peneliti di Inserm, Université Grenoble Alpes, dan CNRS Prancis mengungkapkan bahwa mengurangi penggunaan produk kecantikan selama lima hari dapat memberikan dampak positif yang cepat pada kesehatan.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Environment International pada 7 April ini melibatkan sekitar 100 wanita muda berusia 18 hingga 30 tahun di Grenoble, Prancis.

in1

>>> Cara Cek Status BPJS PBI Aktif dan Bansos 2026 Online via NIK KTP

Para peserta diminta untuk mengurangi jumlah kosmetik yang mereka gunakan dan mengganti produk kebersihan seperti sabun dan pasta gigi dengan alternatif bebas dari fenol sintetis, paraben, ftalat, dan glikol eter.

Hasilnya, tes urine menunjukkan penurunan signifikan kadar beberapa bahan kimia berbahaya hanya dalam waktu satu minggu.

Kadar bisphenol A (BPA) dalam urine turun hampir 40 persen.

BPA diklasifikasikan oleh Uni Eropa sebagai "zat yang sangat memprihatinkan" karena merupakan pengganggu endokrin dan diduga bersifat reprotoksik.

Kadar monoetil ftalat (MEP) yang digunakan dalam fiksatif wewangian berkurang 22 persen, sementara metilparaben turun 30 persen. Propilparaben juga lebih jarang terdeteksi setelah lima hari.

Apa yang Tersembunyi di Produk Kita?

Meskipun bahan karsinogenik dan reprotoksik dilarang di kosmetik Eropa, banyak bahan lain dalam produk kebersihan dan kecantikan masih menimbulkan kekhawatiran.

Fenol sintetis, ftalat, dan metilparaben yang sering ditemukan di kamar mandi diduga dapat mengganggu sistem hormon, berpotensi memengaruhi kesuburan dan perkembangan anak, terutama jika terpapar selama kehamilan.

Peneliti Inserm Claire Philippat menjelaskan bahwa penurunan kadar bahan kimia terjadi dengan cepat karena tubuh kita mengeliminasi zat-zat tersebut cukup cepat.

Hal ini dianggap menggembirakan mengingat bahan-bahan ini diduga membahayakan reproduksi, sistem hormonal, dan perkembangan.