Sebuah tes darah baru bernama myLuma dikembangkan untuk mendeteksi risiko depresi pascamelahirkan (postpartum depression) sebelum bayi lahir.

Tes ini dikembangkan oleh Dionysus Health berdasarkan hampir satu dekade penelitian psikiatri yang ditargetkan.

in1

>>> Apakah Hantu Nyata? Temuan Ilmuwan Top yang Mengejutkan

Penelitian awal pada 2016 oleh peneliti Zachary Kaminsky dan Dr. Jennifer Payne mengidentifikasi penanda genetik spesifik yang memprediksi depresi pascamelahirkan dengan akurasi lebih dari 80 persen pada 240 wanita hamil.

Studi pada 2020 memvalidasi temuan ini secara independen dengan melibatkan 285 partisipan di Johns Hopkins, Emory University, dan University of California, Irvine.

Cara Kerja Tes myLuma

Tes myLuma menyaring metilasi DNA, yaitu modifikasi kimia di mana gugus molekul kecil menempel pada DNA dan mengubah perilaku gen tanpa mengubah urutan genetiknya.

Studi validasi awal mengidentifikasi dua gen spesifik yang menunjukkan pola metilasi berlawanan pada individu dengan risiko tinggi depresi pascamelahirkan.

Dionysus Health kemudian menambahkan biomarker berbasis darah lainnya untuk meningkatkan akurasi prediktif tes ini.

Jika berhasil dalam skala lebih besar, panel ini akan menjadi tes laboratorium komersial pertama yang menggunakan biomarker darah untuk memprediksi kondisi psikiatri sebelum onset klinis.

Ketersediaan dan Keterbatasan Tes

Tes myLuma memasuki pasar klinis sebagai alat pendukung keputusan, bukan diagnosis absolut.

Tes ini mulai tersedia di praktik medis tertentu di tiga negara bagian AS: California, Texas, dan Florida.

Klinisi menekankan bahwa tes tidak dirancang untuk menangkap setiap kasus potensial.

Beberapa individu mengalami depresi pascamelahirkan tanpa membawa tanda epigenetik spesifik ini, sehingga hasil negatif tidak sepenuhnya menghilangkan risiko.

>>> RI Coba-Coba Bikin Tempe Tanpa Kacang Kedelai, Hasilnya Tak Terduga