Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menegaskan bahwa kekerasan akan dibalas dengan kekerasan jika Iran kembali menyerang. Pernyataan itu disampaikan melalui akun media sosialnya pada Jumat (26/6).

"Iran menandatangani perjanjian gencatan senjata. Kami telah menghormatinya.

in1

>>> Justin Bieber Kejutan di NHL Draft, Umumkan Pilihan Pertama

Jika mereka memiliki perbedaan pendapat tentang bagaimana MoU diterapkan, mereka dapat menghubungi kami. Tetapi, kekerasan akan dibalas dengan kekerasan," tulis Vance di platform X.

Cuitan tersebut merupakan respons atas serangan Iran terhadap kapal kargo asal Singapura yang melintasi Selat Hormuz. Sebagai peringatan, AS kembali menyerang wilayah Iran pada hari yang sama.

Serangan Balasan AS dan Iran

AS menargetkan sejumlah lokasi penyimpanan rudal dan drone, serta fasilitas radar di pesisir pantai Iran.

Presiden Donald Trump menyebut Iran meluncurkan setidaknya empat drone ke arah kapal, satu di antaranya mengenai kapal kargo Singapura.

>>> Rekor Gol Terbanyak dalam Satu Edisi Piala Dunia Masih Milik Just Fontaine

Trump menggambarkan serangan itu sebagai 'pelanggaran bodoh' terhadap perjanjian gencatan senjata. Sebagai balasan, Iran kembali menyerang lokasi militer AS di kawasan Teluk pada Sabtu (27/6).

Korps Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa jika agresi terulang, tanggapan mereka akan lebih luas.

Aksi saling serang ini terjadi setelah kedua negara meneken nota kesepahaman (MoU) pada 17 Juni lalu.

MoU tersebut bertujuan menghentikan perang di kawasan, mencakup penghentian pertempuran di seluruh front, pencairan aset Iran, pencabutan blokade militer AS di Selat Hormuz, dan perizinan ekspor minyak mentah Iran.

>>> Komnas Perempuan: Penyiksaan YTR Belum Penuhi Standar PBB karena Unsur Negara

Bagi AS, keuntungannya meliputi pembukaan kembali Selat Hormuz dan komitmen Iran untuk tidak membuat senjata nuklir.