Tidak sedikit anggota keluarga yang harus mengurangi jam kerja bahkan berhenti bekerja demi merawat orang tua yang sakit.

"Beban tersebut sering kali juga tidak terbagi secara adil.

in1

Dalam banyak keluarga Indonesia, perempuan masih menjadi caregiver utama, sehingga mereka menghadapi beban ganda antara pekerjaan, mengurus anak, dan merawat orang tua," kata Made.

Bukan cuma itu, lansia juga sering diposisikan sebagai kelompok yang harus ditanggung.

Padahal, tidak semua lansia kehilangan produktivitas; sebagian masih aktif bekerja, menjalankan usaha, menjadi mentor, hingga terlibat dalam berbagai aktivitas sosial.

Made menilai sudah saatnya Indonesia mengubah cara pandang terhadap kelompok usia lanjut.

"Lansia tidak boleh hanya diposisikan sebagai kelompok penerima bantuan, tetapi sebagai warga negara yang tetap memiliki hak untuk hidup sehat, mandiri, produktif, dan berpartisipasi secara setara dalam kehidupan sosial," kata dia.

Perubahan paradigma ini menjadi penting karena semakin panjang usia harapan hidup justru dapat menjadi modal pembangunan apabila didukung kebijakan yang tepat.

Banyak negara telah membuktikan hal tersebut.

Jepang, Singapura, hingga Korea Selatan tidak hanya membangun rumah sakit, tetapi juga mengembangkan pusat aktivitas lansia, layanan home care, komunitas sosial, dan sistem pendamping profesional.

"Bahkan, sektor ekonomi baru lahir dari meningkatnya kebutuhan kelompok usia lanjut," katanya.

Silver Economy yang Belum Banyak Dilirik

Di tengah kekhawatiran terhadap bertambahnya jumlah lansia, sebenarnya tersimpan peluang ekonomi yang besar. Istilahnya adalah silver economy.

Konsep ini merujuk pada berbagai aktivitas ekonomi yang muncul untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lanjut usia, mulai dari layanan kesehatan, teknologi kesehatan, nutrisi, hunian ramah lansia, alat bantu mobilitas, wisata kesehatan, hingga jasa perawatan profesional.