Diego Armando Maradona harus pulang lebih awal dari Piala Dunia 1994 setelah terbukti menggunakan doping. FIFA menjatuhkan skors 15 bulan kepada legenda Argentina tersebut.

Namun, kasus doping itu bukan pertama kali Maradona berurusan dengan zat terlarang. Pada 1991, ia positif menggunakan kokain berdasarkan tes darah.

in1

>>> Purbaya Tunda Rilis Surat Utang RI di China, Ini Alasannya

Polisi menggerebek apartemen di Buenos Aires yang diduga menjadi tempat pesta narkoba. Maradona bersama dua rekannya ditemukan dalam keadaan mabuk.

Salah satu rekannya membuang paket berisi bubuk putih yang diidentifikasi sebagai kokain ke luar jendela. Maradona dan dua rekannya langsung ditahan.

Kabar penangkapan bocor ke media. Saat keluar dari apartemen, Maradona tersenyum di hadapan wartawan tetapi tak kuasa menahan air mata.

Saat itu Maradona bermain untuk Napoli. Federasi sepak bola Italia menskorsnya selama 15 bulan karena penggunaan kokain.

Maradona mengaku memakai kokain hanya untuk bersenang-senang, bukan untuk meningkatkan performa di lapangan. Ia merasa dengan kekayaan melimpah, segalanya bisa didapatkan.

Pada usia 35 tahun, Maradona mengaku menderita akibat barang haram tersebut.

Ia mulai menggunakan kokain pada 1982 saat berusia 22 tahun dan menjadi pengguna rutin sejak bergabung dengan Napoli pada 1984.

Dua kali ia dirawat di rumah sakit karena masalah jantung terkait penyalahgunaan kokain. Maradona menyebut kokain sebagai ujian terberat dalam hidupnya.

Pada 2004, Maradona menjalani konseling untuk masalah narkoba. Ia pergi ke Kuba untuk pengobatan di Havana's Center for Mental Health dan dikunjungi Presiden Fidel Castro.

>>> Perbandingan Galaxy A37 vs A27: Tidak Adil tapi Perlu

Maradona mengaku bahwa adiksi membuat kemampuannya bermain sepak bola merosot. Ia juga tidak bisa tidur nyenyak karena narkoba.