PT Kimia Farma Tbk (KAEF) mulai mempersiapkan strategi jangka panjang untuk menangkap peluang dari pertumbuhan populasi lanjut usia (lansia) di Indonesia.

Perseroan memperkirakan nilai ekonomi dari segmen lansia atau silver economy ini dapat mencapai Rp500 triliun hingga Rp700 triliun per tahun pada 2045.

>>> Timnas Vietnam Panggil 28 Pemain untuk Piala AFF 2026, Tiga Naturalisasi Baru Masuk

Langkah tersebut sejalan dengan perubahan struktur demografi menuju Indonesia Emas 2045, di mana proporsi penduduk lansia diproyeksikan meningkat menjadi 20% dari total populasi, naik dari sekitar 12% pada 2026.

Direktur Komersial KAEF Hanadi Setiarto mengatakan kelompok lansia akan menjadi salah satu penggerak utama industri kesehatan nasional dalam dua dekade mendatang.

Untuk menggarap potensi tersebut, perseroan menyiapkan strategi Silver Economy Blueprint untuk membangun ekosistem healthy ageing atau penuaan sehat yang terintegrasi.

"Silver economy merupakan peluang besar yang harus dipersiapkan sejak sekarang.

Kami ingin membangun ekosistem kesehatan yang tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pencegahan dan peningkatan kualitas hidup lansia," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (15/6/2026).

Hanadi mengungkapkan, saat ini kelompok lansia menyerap sekitar 30%-40% total belanja kesehatan nasional atau setara Rp190 triliun hingga Rp260 triliun per tahun.

Besarnya pengeluaran tersebut didorong oleh tingginya konsumsi layanan kesehatan oleh lansia yang mencapai tiga hingga lima kali lebih besar dibanding kelompok usia lainnya.

Selain itu, sekitar 70% biaya kesehatan lansia berasal dari penanganan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit degeneratif lainnya.

Menurutnya kondisi tersebut menjadi momentum bagi Kimia Farma untuk melakukan reorientasi model bisnis dari layanan kesehatan yang berfokus pada pengobatan (curative care) menuju layanan preventif dan rehabilitatif.