"Dari total peluang silver economy, pasar farmasi diperkirakan hanya sekitar 30%, sementara 70% lainnya berasal dari layanan kesehatan terintegrasi," katanya.

>>> Hundred Hoo Haa Cup 2026 Resmi Berakhir, Brice Leverdez Jadi Sorotan

Adapun segmen layanan yang diproyeksikan memiliki kontribusi terbesar meliputi segmen Home Care dan Long Term Care (20%), disusul Chronic Care Management (20%), Wellness dan Preventive Care (15%), dan layanan diagnostik (15%).

Perseroan saat ini menggeser fokus bisnis ke arah Preventive & Personalized Care melalui portofolio layanan Healthspan.

Strategi ini didukung berbagai produk kesehatan, mulai dari obat-obatan kimia hingga produk herbal yang dirancang untuk membantu lansia mempertahankan kualitas hidup dan kemandirian lebih lama.

Di sisi layanan diagnostik, PT Kimia Farma Diagnostika (KFD) berperan sebagai ujung tombak melalui penyediaan layanan pemeriksaan kesehatan, early screening, hingga medical check up khusus lansia guna mendeteksi risiko penyakit kronis sejak dini.

Sementara itu, bagi lansia yang memiliki keterbatasan mobilitas, Kimia Farma menghadirkan layanan homecare yang mencakup Home Lab, Home Pharmacy, dan Home Nurse.

Meski peluang pasar sangat besar, Hanadi mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam membangun ekosistem healthy ageing di Indonesia.

Dari sisi regulasi, layanan home care belum sepenuhnya terintegrasi dengan sistem kesehatan nasional dan pembiayaan untuk layanan preventif masih terbatas.

Selain itu, Indonesia juga menghadapi keterbatasan sumber daya manusia, terutama tenaga caregiver dan tenaga kesehatan dengan kompetensi geriatri.

Tantangan lainnya adalah akses layanan lansia yang masih terkonsentrasi di kota-kota besar.

>>> Ferran Torres Tepis Rumor Kepindahan ke PSG, Fokus ke Piala Dunia

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kimia Farma mendorong kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas lansia melalui skema public private partnership.