Indonesia selama puluhan tahun terbiasa membicarakan bonus demografi.

Narasi yang dibangun selalu sama: jumlah penduduk usia produktif yang melimpah akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi jika dikelola dengan baik.

in1

>>> Cara Reaktivasi BPJS Kesehatan Nonaktif 2026 Lewat Mobile JKN dan PANDAWA

Namun perlahan, arah angin mulai berubah.

Anak-anak yang dulu memenuhi ruang kelas kini telah memasuki usia dewasa, sementara mereka yang menjadi tulang punggung pembangunan mulai pensiun.

Indonesia bergerak menuju masyarakat yang semakin menua.

Perubahan itu berlangsung tanpa suara. Tidak ada perayaan, tidak pula alarm yang berbunyi.

Tetapi angkanya berbicara jelas: proporsi penduduk lanjut usia kini telah melampaui 10 persen, batas internasional yang menandai sebuah negara memasuki masyarakat menua.

Data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat persentase lansia mencapai 11,97 persen atau hampir 34 juta jiwa.

Pemerintah memperkirakan angkanya akan terus meningkat hingga mendekati 30 persen pada 2045.

Artinya, dalam dua dekade mendatang, hampir satu dari tiga penduduk Indonesia adalah lansia.

Sekretaris Utama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN), Budi Setiyono, menyebut Indonesia kini telah memasuki babak baru pembangunan.

"[Populasi lansia] kita sudah di atas 11 persen sehingga kita sudah masuk ageing population dan diperkirakan nanti sampai 2045 persentasenya bisa mencapai 30 persen," ujarnya.

Fenomena ini bukan sekadar soal bertambahnya orang berambut putih. Ini menjadi penanda bahwa Indonesia menghadapi perubahan demografi terbesar dalam sejarah modernnya.

Hadiah yang Bisa Berubah Menjadi Tantangan

Di satu sisi, meningkatnya jumlah lansia adalah kabar baik. Itu berarti masyarakat hidup lebih lama.

Harapan hidup warga Indonesia kini mencapai 74,15 tahun, berkat kemajuan layanan kesehatan, perbaikan gizi, dan meningkatnya kualitas hidup.