"Dominasi LFP dan perkembangan LMFP di segmen kendaraan listrik utama serta penyimpanan energi secara langsung dapat mengurangi permintaan nikel," ujarnya.

Pergeseran ini dapat berdampak pada investasi yang saat ini mengarah ke industri nikel.

in1

Risikonya meliputi kelebihan kapasitas produksi, tekanan harga nikel, hingga turunnya nilai investasi jika pasar semakin condong ke teknologi lain.

"Masalahnya bukan hanya bagaimana memperbesar produksi satu jenis material, tetapi bagaimana membangun ekosistem yang mampu mengikuti perubahan teknologi," tegas Sigit.

Tak hanya soal baterai, Sigit juga menekankan perlunya Indonesia meningkatkan daya saing manufaktur. Produksi baterai membutuhkan energi besar, standar manufaktur ketat, dan efisiensi tinggi.

Pasar global juga semakin memperhatikan penggunaan energi rendah karbon dalam produksi.

"Yang dibutuhkan bukan hanya memperkuat satu komoditas, tetapi membangun ekosistem industri yang inovatif dan fleksibel," ujarnya.

Intinya, Indonesia perlu membuka pintu bagi teknologi lain seperti LFP, LMFP, sodium-ion, atau teknologi masa depan lainnya.

>>> Mutasi Polri: 190 Kapolres se-Indonesia Dirotasi

"Jangan sampai kita hanya membangun industri untuk teknologi yang sudah mulai berubah. Yang harus dibangun adalah ekosistem yang mampu mengikuti perkembangan teknologi," pungkasnya.