Transaksi narkoba senilai jutaan dolar kini bisa berlangsung tanpa satu lembar uang kertas pun berpindah tangan.

Uang bergerak lewat jaringan komputer, tersimpan dalam dompet digital, dan berakhir di jalur tak kasat mata bernama blockchain.

in1

>>> Perputaran Uang Jumbo di Balik Bisnis Gelap Narkoba di Indonesia

Hal ini merupakan wajah perdagangan narkoba modern, dan mata uang kripto telah menjelma jadi tulang punggung finansialnya.

Kripto memiliki daya tarik kuat bagi pelaku kriminal karena transaksi pseudonim yang sulit dilacak, tidak ada perantara bank, dan tidak ada batas negara.

Pengguna hanya perlu alamat dompet dan koneksi internet, lalu uang hasil penjualan heroin, fentanil, atau amfetamin bisa mengalir dari satu benua ke benua lain dalam hitungan menit.

Sistem ini memastikan tidak ada akun yang bisa dibekukan, serta tidak ada teller yang bisa mempertanyakan asal dana.

Pasar Gelap dan Lonjakan Transaksi

Berdasarkan laporan EU Serious and Organised Crime Threat Assessment (EU-SOCTA) 2025, pasar gelap di darknet kini menghasilkan pendapatan harian antara US$5 juta hingga US$7,5 juta.

Hampir seluruhnya bertumpu pada kripto sebagai medium pembayaran.

Sepanjang 2024, transaksi narkoba berbasis kripto di pasar darknet mencapai lebih dari US$1,7 miliar, tumbuh lebih dari 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada 2025, angka tersebut meningkat lagi. Chainalysis mencatat total aliran kripto ke vendor narkoba dan darknet markets (DNM) melampaui US$2,5 miliar.

Saat ini tercatat sekitar 30.000 situs web aktif di dark web, dengan 56 hingga 60 persen di antaranya terlibat dalam kegiatan kriminal.

Pasar-pasar ini beroperasi seperti toko daring resmi, lengkap dengan deskripsi produk, foto, dan sistem rating penjual.