Dalam dunia pengasuhan anak, muncul istilah curling parenting yang belakangan banyak diperbincangkan. Pola asuh ini menggambarkan orang tua yang berusaha melindungi anak dari segala kesulitan.

Istilah curling parenting diambil dari olahraga curling, di mana pemain menyapu es di depan batu agar jalurnya mulus.

in1

>>> Cara Atasi Tidak Terdaftar DTSEN: Panduan Lengkap Perbaikan Data Bantuan Sosial

Dalam konteks parenting, orang tua melakukan hal serupa dengan membersihkan hambatan dari kehidupan anak.

Apa Itu Curling Parenting?

Psikolog klinis Laura Anderson menjelaskan bahwa curling parenting adalah pola asuh ketika orang tua berusaha menghilangkan berbagai rintangan dari jalan hidup anak.

Tujuannya baik, yaitu agar anak tidak mengalami kegagalan, kesulitan, atau kekecewaan.

Orang tua dengan gaya ini tidak hanya memberikan arahan, tetapi juga ikut menentukan jalan yang harus ditempuh anak.

Mereka sering turun tangan sebelum anak sempat menghadapi masalah atau mencari solusi sendiri.

Sekilas, pendekatan ini terlihat penuh perhatian.

Namun, jika dilakukan terus-menerus, anak bisa menjadi terlalu bergantung pada orang tua dalam mengambil keputusan maupun menghadapi tantangan.

Ciri-Ciri Curling Parenting

Ada beberapa tanda yang sering terlihat pada pola asuh ini. Pertama, orang tua terlalu cepat membantu anak saat menghadapi kesulitan, bahkan sebelum anak mencoba menyelesaikannya sendiri.

Kedua, orang tua berusaha menghindarkan anak dari kegagalan. Anak jarang merasakan konsekuensi dari kesalahannya karena orang tua selalu melindungi atau menyelesaikan masalah untuk mereka.

>>> Polri Mutasi 1.121 Personel Pati dan Pamen, Termasuk Kapolda Aceh dan Papua Barat Daya

Ketiga, orang tua mengatur banyak aspek kehidupan anak, mulai dari memilih aktivitas, menentukan hobi, hingga mengambil keputusan penting.