Siapa pun yang pernah menghadiri acara resmi pasti akrab dengan sesi sambutan.

Mulai dari seminar, pelatihan, peresmian, rapat, wisuda, hingga acara pemerintahan, sesi ini hampir selalu hadir dan sering memakan waktu yang tidak sedikit.

in1

>>> Ferry Irwandi Klarifikasi Soal Tan Malaka usai Perdebatan dengan Zen RS di Threads

Peserta kerap menunggu cukup lama sebelum acara utama dimulai karena harus mendengarkan sambutan dari beberapa orang secara bergantian.

Biasanya, mereka yang diminta memberikan sambutan adalah orang-orang dengan posisi atau jabatan tertentu.

Sebagai peserta, saya sering bertanya-tanya mengapa sesi sambutan mendapat porsi begitu besar. Akibatnya, acara utama justru harus menunggu, sementara peserta dipaksa duduk mendengarkan pidato panjang yang cenderung membosankan.

Sesi sambutan di acara resmi mencerminkan cara pandang yang masih menempatkan jabatan dan hierarki pada posisi istimewa.

Sulit untuk tidak melihatnya sebagai warisan feodal yang masih dianggap normal dan terus dipertahankan hingga sekarang.

Sesi Sambutan yang Terlalu Panjang Hanya Buang-Buang Waktu

Jika sebuah sambutan benar-benar berisi informasi penting, peserta tentu akan mendengarkannya dengan senang hati. Masalahnya, sesi sambutan sering memakan waktu lama sehingga acara utama menjadi molor.

Padahal, banyak sesi sambutan di acara resmi yang hanya berfungsi sebagai formalitas.

Tidak sedikit sambutan yang isinya mirip, disampaikan bergantian hanya karena setiap pemegang jabatan dianggap perlu mendapat giliran berbicara.

Dalam hal ini, yang paling dirugikan adalah peserta.

Mereka datang untuk mengikuti acara utama, bukan menghabiskan waktu mendengarkan rangkaian sambutan yang sering tidak menambah informasi baru.

>>> Khutbah Jumat 3 Juli 2026: Keutamaan Bulan Muharram dan Amalan yang Dianjurkan

Jika sebuah pesan bisa disampaikan secara singkat dan jelas, tidak ada alasan untuk membuat peserta menunggu lebih lama dari yang diperlukan.