Demonstrasi Bayaran Dinilai Rusak Demokrasi, Dalang Harus Ditindak
Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, menilai praktik demonstrasi berbayar merupakan ancaman serius bagi demokrasi.
Menurutnya, aksi yang digerakkan dengan imbalan kepada massa berpotensi menciptakan opini publik palsu.
>>> Nonton Drakor Agent Kim Reactivated (2026) Full Movie: Link, Sinopsis, dan Daftar Pemeran
Pernyataan itu disampaikan Jamiluddin merespons pengakuan mahasiswa BEM Universitas Bung Karno yang mengaku menerima uang dari Wakil Presiden.
Presiden Prabowo Subianto juga sempat menyatakan mengetahui pihak-pihak yang membiayai demonstrasi.
"Demonstrasi bayaran tentu merusak demokrasi.
Sebab, mereka demonstrasi bukan karena ingin menyampaikan aspirasi, tetapi untuk menyuarakan kepentingan pihak yang membayarnya," kata Jamiluddin kepada Suara.
com, Jumat (26/6/2026).
Menurut dia, praktik tersebut menunjukkan adanya pihak yang memperalat massa demi kepentingan sendiri. Demonstran bayaran kerap diminta menyerang atau memaki individu maupun lembaga tertentu untuk membentuk persepsi publik.
Jamiluddin menilai tujuan utama demonstrasi berbayar adalah membangun opini publik terhadap seseorang atau lembaga. Namun, opini yang terbentuk bukan berasal dari aspirasi masyarakat yang sesungguhnya.
"Pendapat umum yang terbentuk melalui demo bayaran pada umumnya palsu," ujarnya.
Ia mengingatkan, opini publik yang tidak autentik berpotensi memengaruhi arah kebijakan pemerintah.
>>> 40 Ucapan Wisuda Islami untuk Anak Perempuan dan Laki-Laki yang Penuh Makna
Akibatnya, kebijakan yang diambil tidak lagi menjawab kebutuhan masyarakat, melainkan melayani kepentingan pihak di balik aksi tersebut.
"Kebijakan seperti itu tentu tidak tepat sasaran. Hal itu akan berpengaruh terhadap minimnya efektivitas kebijakan yang diambil pemerintah," katanya.
Karena itu, Jamiluddin menegaskan demonstrasi berbayar tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa. Pihak yang mengorganisasi maupun membiayai aksi semacam itu harus diproses sesuai hukum.
Update Terbaru
Survei Litbang Kompas: Kepercayaan dan Kepuasan Publik ke Polri Meningkat
Jumat / 26-06-2026, 11:07 WIB
Jokowi Ingin PSI Jadi Mesin Politik Besar, Awali Blusukan ke Lampung
Jumat / 26-06-2026, 11:07 WIB
Belanda vs Maroko di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026
Jumat / 26-06-2026, 11:07 WIB
Tiga Siswa SMA Ciptakan IndoChar, Ubah Limbah Tani Jadi Solusi Iklim
Jumat / 26-06-2026, 11:07 WIB
Harga Minyak Turun ke US$75 Meski Ada Kapal Diserang di Dekat Oman
Jumat / 26-06-2026, 11:07 WIB
Warga Menjarah Supermarket usai Gempa Dahsyat Venezuela
Jumat / 26-06-2026, 11:07 WIB
Luhut Bantah Pembentukan Family Office Gunakan APBN
Jumat / 26-06-2026, 11:06 WIB
Mutasi Polri: Kapolda Aceh dan Papua Barat Daya Diganti
Jumat / 26-06-2026, 11:05 WIB
Hasil Piala Dunia 2026: Australia dan Paraguay Bermain Imbang Tanpa Gol
Jumat / 26-06-2026, 11:05 WIB
SpaceX Bakal Punya 'Bintang' Baru Bernama Starmind
Jumat / 26-06-2026, 11:02 WIB
Rute dan Jadwal KRL Jogja-Solo 26 Juni 2026, Tarif Rp8.000
Jumat / 26-06-2026, 11:02 WIB
Hasil Seleksi Administrasi PPPK Sekolah Rakyat Kemensos 2026 Diumumkan, Ini Cara Ceknya
Jumat / 26-06-2026, 11:01 WIB
Polisi Orlando Luncurkan Program Drone sebagai Responden Pertama
Jumat / 26-06-2026, 10:50 WIB
Sheriff St. Tammany Parish Mengundurkan Diri Usai Mengaku Bersalah atas Tuduhan Felony Battery
Jumat / 26-06-2026, 10:50 WIB






