Sementara dalam jangka panjang, ia menilai pemerintah perlu meningkatkan eksplorasi migas di sektor hulu dan mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di sektor hilir.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda. Harga BBM nonsubsidi memang seharusnya mengikuti rata-rata harga minyak mentah global dalam periode tertentu.

in1

"Kalau dalam sebulan ini rata-rata harga minyak mentah global lebih rendah dibandingkan bulan kemarin, maka ya harusnya Juli nanti akan ada penurunan harga BBM nonsubsidi," ujar Huda.

Ia mengatakan pemerintah juga perlu memperhatikan pergerakan harga bahan bakar di kawasan regional seperti Mean of Platts Singapore (MOPS) yang umumnya bergerak searah dengan harga minyak dunia.

Oleh karena itu, jika tren pelemahan harga minyak berlanjut, pemerintah dinilai perlu segera menyesuaikan harga BBM nonsubsidi.

"Saya rasa pemerintah seharusnya menurunkan harga BBM nonsubsidi sesegera mungkin," ujar Huda.

Meski demikian, fokus pemerintah tidak boleh berhenti pada penyesuaian harga BBM semata. Huda menilai gejolak harga minyak dunia harus menjadi pengingat pentingnya percepatan transisi energi di Indonesia.

"Fokusnya kepada transisi energi. Kita harus mempercepat transisi energi dari energi fosil ke energi baru terbarukan.

Secara lingkungan oke, secara perdagangan akan mengurangi impor energi dari luar," kata Huda.

Menurut dia, transisi energi di Indonesia masih jauh dari kata selesai.

Oleh karena itu, selain mempercepat pengembangan energi terbarukan, pemerintah juga perlu memperbanyak pembangunan kilang dalam rangka menjamin ketersediaan stok dalam negeri.

"Tapi memang di Indonesia sendiri, transisi energi masih jauh dari kata 'beres'. Akhirnya, lagi-lagi akan tergantung dari impor energi.

>>> Prabowo Sebut Tahu Dalang Demo Berbayar, NasDem: Presiden Pasti Sudah Tahu Bohirnya

Untuk itu, pembangunan kilang harusnya diperbanyak untuk menjamin stok lebih lama," ujar Huda.