Hadi memperkirakan harga minyak dunia dalam jangka menengah dapat kembali ke kisaran normal, yakni US$60 hingga US$70 per barel.

Jika tren pelemahan harga minyak bertahan, penyesuaian harga BBM nonsubsidi berpeluang dilakukan pada pertengahan Juli.

in1

"Karena saat itu rata-rata kurs setengah harga mendekati US$70 per barel.

Nota perdamaian kelihatannya sudah fix dan diratifikasi banyak pihak kecuali Israel, sehingga menjadi bukti validasi kuat untuk release blokade," ucapnya.

"Pencabutan sanksi dan ekonomi dunia akan bergerak normal setelah 20 juta barel supply minyak dari Teluk Persia kembali masuk pasar dunia," jelasnya.

Manfaatkan Momentum Harga Murah

Hadi menilai Indonesia perlu memanfaatkan momentum harga minyak yang lebih murah untuk memperkuat cadangan energi nasional.

>>> Daftar Negara Asia Paling Percaya Akhirat, RI Peringkat 7

Pemerintah disarankan meningkatkan impor minyak mentah dan BBM dalam jangka pendek dari AS dan Timur Tengah agar cadangan strategis BBM RI kembali naik di angka sekitar 20 hari.

Ia mengatakan saat ini konsumsi BBM nasional sekitar 1,63 juta barel per hari, sedangkan produksi kilang nasional hanya sekitar 1,28 juta barel per hari.

"Minimal ditambah impor BBM dua kali lipat dalam 10 hari ke depan menjadi 0,7 juta barel per hari, sehingga kita bisa aman mengembalikan cadangan strategis pada posisi aman, tidak terjadi kelangkaan di kemudian hari," ujar Hadi.

Hadi juga menyarankan penambahan fasilitas penyimpanan minyak, baik melalui floating storage maupun penyewaan onshore storage di sekitar Kepulauan Riau.

Dalam jangka menengah, Hadi mendorong pembangunan fasilitas penyimpanan baru melalui kerja sama Pertamina dengan pihak ketiga agar tidak membebani APBN.

Selain itu, pemerintah juga diminta terus mempercepat program konversi BBM ke gas, kendaraan listrik, serta pengembangan biodiesel seperti B50 guna mengurangi ketergantungan terhadap minyak mentah.