Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan harga BBM subsidi tidak akan dinaikkan meskipun harga minyak mentah sempat menembus di atas US$100 per barel.

Kondisi ini jelas menambah tekanan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) karena pemerintah harus menahan harga BBM subsidi tetap stabil.

in1

>>> Semen Magnetik Ciptaan Pemuda 29 Tahun Siap Ubah Industri Konstruksi

Bahlil mengaku sudah berdiskusi dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengenai strategi menjaga subsidi di tengah gejolak geopolitik.

Dalam APBN 2026, subsidi BBM dipatok sekitar Rp200 triliun dengan asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) US$70 per barel, yang memberi pemasukan negara sekitar US$10,8 miliar.

"Saya rapat sama pak Menkeu, gimana caranya mendapat duit?

Saya bilang begini, sekarang subsidi kita itu kan kurang lebih, harga ICP US$ 70, itu total pendapatan negara kita US$ 10,8 miliar.

Dengan asumsi subsidi kita kurang lebih sekitar Rp 200 triliun," ujarnya dalam acara CNBC Energy Forum 2026, Jakarta Pusat, dikutip Jumat (26/6).

Namun ketika harga minyak melonjak ke atas US$100 per barel, kebutuhan subsidi bisa bertambah Rp200–250 triliun.

Bahlil menekankan beban tambahan itu tidak serta-merta membuat harga BBM subsidi naik, karena pemerintah harus melindungi masyarakat berpenghasilan rendah.

"Kalau harga ICP-nya US$ 100 maka ada penambahan subsidi sekitar Rp 200 - 250 triliun. Pertanyaan waktu itu, orang, sempat naik menjadi US$ 119 per barel ICP.

Pada saat itu semua bingung, gimana caranya? Boleh (harga BBM subsidi) naikkan?

>>> Penjelasan Ending Drakor Notes From The Last Row: Buat Professor Heo Mun Ho Bongkar Rahasia Lee Kang jadi Tanda Lanjut Musim Kedua?