OPEC melaporkan penurunan sebesar 27,5 persen atau delapan juta ton produksi minyak mentah pada bulan Maret akibat Perang AS-Israel melawan Iran.

Tren produksi minyak di Venezuela diperkirakan akan berlanjut setelah perusahaan minyak Spanyol, Repsol, mengumumkan akan kembali memulai bisnis minyaknya di Venezuela dalam beberapa hari ke depan.

in1

Keputusan itu diumumkan setelah pertemuan dengan Presiden Interim Venezuela, Delcy Rodríguez, meski detailnya tidak dijelaskan seperti dilaporkan Deutsche Welle.

Selain itu, Kedutaan Besar AS mengumumkan pada April lalu bahwa perusahaan AS Chevron juga akan meluaskan investasinya.

"Setiap perjanjian yang ditandatangani, seperti yang dilakukan hari ini dengan Chevron, mendukung pemulihan ekonomi Venezuela," demikian disampaikan perwakilan diplomatik AS.

Perjanjian antara Chevron dan perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, memungkinkan perusahaan AS tersebut mengendalikan hampir setengah dari joint venture "Petroindependencia" sebagai imbalan atas investasinya.

>>> Bendera Arab Saudi dan Irak Tak Dibentangkan di Piala Dunia 2026, Hormati Alquran

Porsi Chevron dalam konsorsium di Sabuk Orinoco akan meningkat dari hampir 36 persen menjadi 49 persen.