Laman Economics Observatory mengulas bahwa ekonomi Venezuela menderita akibat kebijakan ekonomi yang membawa bencana selama beberapa dekade, kemudian akibat sanksi ekonomi.

Negara ini telah mengalami penurunan standar hidup terbesar yang pernah ada di luar perang, revolusi, atau runtuhnya negara.

in1

Standar hidup di Venezuela yang kaya minyak anjlok hingga 74% antara tahun 2013 dan 2023.

Perekonomian negara itu runtuh di bawah satu pemerintahan selama masa damai.

>>> Akhir Tragis Qatar: Juara Asia Jadi Lumbung Gol Piala Dunia 2026

Kehancuran ini sebanding dengan yang terlihat di Irak, Lebanon, dan Liberia, negara-negara yang dilanda perang atau perang saudara.

Meski kaya akan sumber daya alam dengan cadangan minyak terbesar dunia, hiperinflasi, kemiskinan ekstrem yang mencakup hampir 90% penduduk, dan ketidakstabilan politik telah meruntuhkan standar hidup serta pertahanan keamanan negara tersebut.

Akibat kondisi dalam negeri yang morat-marit, banyak warga Venezuela meninggalkan negaranya. Tercatat ada 8 juta warga pergi mencari penghidupan yang lebih baik.

"Setiap harinya tak kurang dari 5.000 warga yang angkat kaki meninggalkan negerinya untuk menyelamatkan diri dari krisis ekonomi dan kemanusiaan," lapor BBC.

Upaya Pemulihan

Di tengah krisis yang datang bertubi-tubi, Venezuela sebenarnya sedang berusaha bangkit.

Pada April lalu, antrean di depan pompa bensin di Venezuela sudah berkurang atau bahkan sudah tidak ada lagi.

Venezuela melaporkan kepada OPEC bahwa produksi minyak pada bulan Maret mencapai 1.095.000 barel per hari. Volume produksi meningkat sebesar 75.000 barel dibandingkan bulan sebelumnya.

Pada tahun 2024, angka tersebut masih berada di sekitar 893.000 barel per hari. Kenaikan ini bertolak belakang dengan tren global.