Sebanyak 600 peternak ayam petelur di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, mengalami krisis akibat penumpukan telur dan kenaikan harga pakan yang signifikan.

Harga pakan naik menjadi Rp465 ribu per sak, sementara harga jual telur merosot hingga Rp18.500 per kilogram.

in1

>>> Kejagung Ungkap 12 Perkara Besar, dari Korupsi Timah Rp300 T hingga MBG

Penurunan daya beli masyarakat menyebabkan rantai distribusi telur tersumbat, mengancam keberlangsungan usaha ternak rakyat.

Telur Menggunung di Gudang

Di Desa Buluharjo, Kecamatan Plaosan, Magetan, gudang yang biasanya kosong kini dipenuhi tumpukan telur.

Agung Pambudi, salah satu peternak, mengaku setidaknya 1 hingga 2 ton telur tertahan di gudangnya.

"Kondisi peternak hancur. Telur menumpuk tak bisa keluar, sementara harga pakan terus naik," keluhnya.

Dalam waktu singkat, harga pakan melompat dari Rp408 ribu menjadi Rp465 ribu per sak.

Ironisnya, harga jual telur justru merosot drastis dari Rp23.000 menjadi Rp18.500 hingga Rp20.000 per kilogram.

Para peternak terpaksa menjual di bawah harga pokok produksi demi menghindari telur membusuk.

>>> Diadukan Ruben Onsu ke KPAI, Sarwendah Siap Tunjukkan Bukti Balasan

Krisis ini menghantui sekitar 600 peternak dengan populasi mencapai 1,6 juta ekor ayam di Magetan.

Teguh Wahyudi dari Paguyuban Ternak Rakyat Indonesia memperingatkan ancaman bangkrut massal.

"Harga pakan terus mencekik, sementara pasar seolah berhenti menyerap hasil produksi kami," tegasnya.

Lesunya serapan telur terasa hingga ke Pasar Sayur Magetan. Pedagang mengeluhkan penurunan omzet drastis.

Biasanya 15 kilogram telur habis dalam sehari, kini butuh waktu hingga tiga hari untuk menjual jumlah yang sama.

Masyarakat tampaknya mengerem daya beli, membuat rantai distribusi telur tersumbat.

>>> Cara Cek Pencairan BLT Dana Desa 2026 Rp300.000–Rp1,8 Juta

Para peternak kini hanya bisa bertahan di tengah ketidakpastian, menunggu kebijakan pemerintah.