Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluapkan kemarahan setelah Senat meloloskan resolusi yang menyerukan penghentian permusuhan terhadap Iran. Resolusi tersebut dikenal sebagai "Undang-Undang Kekuatan Perang."

Trump menilai resolusi itu hadir pada saat yang tidak tepat. Ia mengklaim pemerintahannya telah berhasil menekan posisi Iran.

in1

>>> Transaksi Deposit Judol di Jakbar Capai Rp600 Miliar dari 89.320 Pemain

"Senat AS memutuskan untuk mengadakan pemungutan suara resolusi itu pada waktu yang tidak tepat dan tidak berarti," ungkap Trump melalui Truth Social, dikutip Kamis (25/6).

Menurut Trump, Iran berada dalam posisi terdesak dan mulai menunjukkan sikap lebih terbuka terhadap AS. Hal itu terjadi setelah tekanan militer dan diplomatik dari Washington.

Namun, langkah Senat justru berpotensi melemahkan posisi tawarnya di tengah proses yang sedang berlangsung. Trump menegaskan akan tetap melanjutkan agenda kebijakan luar negerinya.

"Saya akan menuntaskannya, dengan cara apa pun, karena saya selalu berhasil menuntaskannya," tegas Trump.

Resolusi tersebut sebelumnya telah mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat AS. Ini menjadi penolakan simbolis paling kuat dari kongres terhadap kemungkinan perang baru dengan Iran.

Wakil Presiden Vance Sebut Empat Tujuan Tercapai

Sebelumnya, Wakil Presiden AS JD Vance mengungkapkan hasil besar dari perundingan antara AS dan Iran di Swiss. Ia menegaskan seluruh tujuan utama dalam negosiasi telah berhasil dicapai.

>>> Pelajaran Keselamatan Senjata Api dari Insiden Pasadena

Menurut Vance, AS menetapkan empat tujuan utama sebelum memasuki meja perundingan. Seluruhnya kini telah membuahkan hasil awal yang signifikan.

Tujuan pertama adalah memastikan terbukanya Selat Hormuz. Vance mengatakan pihaknya telah membentuk mekanisme khusus untuk mencegah eskalasi konflik di wilayah tersebut.

Target kedua adalah menjaga gencatan senjata di kawasan. AS disebut membangun jalur komunikasi darurat antara pihak-pihak yang berpotensi terlibat konflik, termasuk Israel dan Hizbullah.

"Kami ingin memastikan jika terjadi penembakan, kami benar-benar saling berkomunikasi untuk menghentikannya," kata Vance.

Poin ketiga adalah pengizinan inspeksi Badan Energi Atom Internasional (IAEA) ke Iran. Tujuan keempat adalah membangun kerangka teknis untuk negosiasi lanjutan dalam beberapa minggu ke depan.

Meski demikian, Vance menegaskan bahwa kesepakatan akhir belum tercapai. "Ini baru fondasi.

>>> Kepala Polisi Kampus SEMO Didakwa Memberi Jawaban Ujian kepada Taruna

Kami belum membangun rumahnya. Tapi kami sudah berada di jalur yang tepat," ujarnya.