Sumber yang sama mengatakan hari Bumi saat ini memanjang sekitar 2,3 milidetik per abad, meskipun lajunya tidak sepenuhnya stabil.

Jadi kapan kita mendapatkan 25 jam? Tidak dalam waktu dekat.

in1

Layanan CORDIS Komisi Eropa mencatat bahwa pengukuran historis menunjukkan pemanjangan rata-rata sekitar 1,8 milidetik per abad, dan hari 25 jam tidak akan tiba selama 2 juta abad lagi jika tren tidak berubah.

Itu kira-kira 200 juta tahun.

Bagaimana ilmuwan bisa tahu? Tidak ada yang bisa merasakan perubahan milidetik saat menuang kopi atau naik kereta.

Ilmuwan melihatnya dengan membandingkan perhitungan presisi dengan catatan panjang gerhana dan peristiwa astronomi lainnya.

CORDIS melaporkan bahwa peneliti menggunakan sekitar 3.000 tahun catatan langit, termasuk pengamatan dari 720 SM hingga 2015, untuk melacak bagaimana putaran Bumi telah berubah.

Pengaturan waktu modern menambah lapisan lain.

Institut Nasional Standar dan Teknologi (NIST) menjelaskan bahwa detik kabisat digunakan untuk menjaga Waktu Universal Terkoordinasi (UTC) selaras dengan waktu astronomi, karena rotasi Bumi tidak teratur dan secara bertahap melambat jika dirata-rata dalam interval panjang.

Sementara tarikan gravitasi Bulan bertindak sebagai rem jangka panjang pada putaran Bumi, perubahan iklim modern juga berkontribusi pada pemanjangan hari secara bertahap.

Layanan Sistem Referensi dan Rotasi Bumi Internasional mengatakan detik kabisat dirancang untuk menjaga UT1 dan UTC dalam jarak 0,9 detik satu sama lain.

>>> Demo Mahasiswa di Surabaya dan Makassar, Ini Tuntutan Massa

Itu mungkin terdengar seperti masalah hanya untuk penggila jam, tetapi tidak.

GPS, jaringan komunikasi, satelit, sistem keuangan, dan instrumen ilmiah semua bergantung pada ketepatan waktu yang sangat presisi sehingga goyangan dan perlambatan kecil Bumi menjadi penting.