Lima duta besar negara sahabat mengaku takjub dan terkesan setelah mencicipi Fate Peri, masakan khas Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terbuat dari ulat bambu.

Kelima dubes tersebut adalah Dubes Singapura Kwok Fook Seng, Dubes Inggris Dominic Jermey, Dubes Mesir Yasser Elshemy, Dubes Jerman Ralf Beste, dan Dubes Italia Roberto Colamine.

in1

>>> Malware Android Rokarolla Incar 217 Aplikasi Bank, Ini Modusnya

Mereka menyatakan hidangan khas Pulau Flores itu memiliki cita rasa unik dan lezat.

"Saya mencobanya dan rasanya memang unik, tetapi memang lezat," kata Dubes Kwok Fook Seng.

Fate Peri adalah makanan asli NTT berupa ulat bambu yang disangrai dan dibumbui hanya dengan garam. Makanan tinggi protein ini sangat umum di daerah Bajawa, Flores.

Dubes Inggris Dominic Jermey menyampaikan apresiasinya atas undangan ke jamuan tersebut.

"Untuk para Mama Wogo yang telah menyiapkan hidangan ini hanya ada satu kata: rasanya mantul," pujinya dengan Bahasa Indonesia yang fasih.

Para dubes menghadiri jamuan makan malam Ambassadors' Dinner pada Selasa (23/6) di Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta.

Acara ini merupakan bagian dari pameran wastra NTT bertajuk Weaving Wonders serta Forum Ekonomi Restoratif Kunstkring Dialogue.

Hidangan disiapkan para Mama Wogo, nama sebuah kampung tradisional di Bajawa, Flores.

Selain aktif melakukan konservasi menggunakan bambu, para mama juga mengelola Kebun Pangan Perempuan sebagai sumber pangan lokal bergizi dan melestarikan kuliner tradisional.

>>> Hilman Latief Kembali Diperiksa KPK sebagai Saksi Kasus Kuota Haji

Jamuan santap malam ini membuka Kunstkring Dialogue, forum ekonomi restoratif yang berlangsung pada 24-26 Juni.

Forum akan diisi sejumlah sesi diskusi membahas ekonomi restoratif, energi terbarukan, pariwisata berkesadaran, dan kepemimpinan perempuan dalam konservasi dan ekonomi desa.