Skema Asuransi Iran di Selat Hormuz Dinilai Ancam Perdagangan Global
Negosiasi gencatan senjata antara Iran dan Barat di Swiss diwarnai isu baru. Teheran berencana menerapkan registrasi dan asuransi wajib bagi kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.
Industri maritim internasional menilai kebijakan itu berpotensi menjadi pungutan ilegal yang mengganggu perdagangan global. Seorang sumber senior di sektor pelayaran menyebut proposal Iran tidak dapat diterima.
>>> Jurgen Klopp Semprot Van der Vaart Usai Kritik Pedas Van Dijk di Piala Dunia 2026
"Tidak ada negara yang bisa secara sepihak mengklaim yurisdiksi atas perairan internasional.
Jika dipaksakan, lalu lintas tidak akan kembali ke level sebelum perang," ujar sumber tersebut seperti dikutip dari NY Post.
Skema Asuransi dan Penolakan Barat
Dalam kesepakatan gencatan senjata 60 hari, Iran membentuk lembaga baru yang mewajibkan kapal mendaftar dan menggunakan asuransi yang disetujui pihaknya.
Perusahaan asuransi Barat menolak karena berisiko melanggar sanksi AS dan memaksa mereka tunduk pada sistem hukum Iran.
"Ini jelas upaya menjadikan selat sebagai senjata ekonomi terhadap Barat," kata sumber lain. Ia menambahkan kebijakan tersebut bisa merusak ekonomi global jika diberlakukan secara luas.
>>> 9 Manfaat Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur, Tak Hanya Segar
Iran menawarkan asuransi gratis selama periode awal, tetapi tetap membuka peluang mengenakan premi tinggi di kemudian hari.
Hal ini memicu kekhawatiran bahwa kebijakan tersebut hanyalah langkah awal menuju pungutan permanen.
Sebagai alternatif, banyak perusahaan pelayaran memilih jalur sempit melalui Oman yang dilindungi militer AS. Namun, kapasitasnya terbatas.
Lalu lintas kapal masih jauh di bawah kondisi normal sebelum konflik, yang mencapai lebih dari 130 kapal per hari.
Masalah lain yang belum terselesaikan adalah ranjau laut yang masih tersebar di perairan utama. Diplomat Uni Eropa menegaskan pembersihan ranjau menjadi prioritas mendesak.
>>> Dua Wanita di Atlanta Diduga Mencuri Jam Tangan Mewah Senilai Rp400 Juta Setelah Membius Korban
"Tanpa itu, tidak akan ada pemulihan. Tidak ada kapten kapal yang mau mengambil risiko kapalnya meledak," ujarnya.
Update Terbaru
Perkuat Kontrol Operasional dan Costing, ABC Kogen Dairy Transformasikan ERP Bersama TMS Consulting
Selasa / 23-06-2026, 06:38 WIB
IHSG Belum Aman, MNC Sekuritas Prediksi Koreksi Berlanjut Sebelum Menguat
Selasa / 23-06-2026, 06:14 WIB
5 Zodiak Paling Beruntung 23 Juni 2026, Taurus dan Virgo Diprediksi Ketiban Hoki
Selasa / 23-06-2026, 06:14 WIB
Kakek 85 Tahun Ngebut 110 mph di Nissan 350Z, Dituduh Balap Liar
Selasa / 23-06-2026, 06:09 WIB
Honor Luncurkan Earbuds 5e dengan ANC Adaptif 52dB dan Baterai 45 Jam
Selasa / 23-06-2026, 06:09 WIB
Carlos Mencia Mengaku Tidak Bersalah atas 12 Dakwaan Penipuan Pajak
Selasa / 23-06-2026, 06:02 WIB
Kakak D4vd Kembali ke Media Sosial Jelang Sidang Pembunuhan
Selasa / 23-06-2026, 06:01 WIB
Jessica Simpson Buka DM, Tapi Hanya untuk Pria Terverifikasi
Selasa / 23-06-2026, 06:01 WIB
Ayah Alannah Keyser Bela Putrinya dari Tuduhan Rasis
Selasa / 23-06-2026, 06:00 WIB
Argentina Lolos ke 32 Besar Piala Dunia 2026 Usai Tekuk Austria
Selasa / 23-06-2026, 06:00 WIB
Polisi Gagalkan Penyelundupan Etomidate Rp97 Miliar Jaringan Internasional
Selasa / 23-06-2026, 06:00 WIB
Pilihan Ruang Kerja Bisa Mengungkap Kepribadian, Benarkah?
Selasa / 23-06-2026, 06:00 WIB
Munas NU 2026 Desak Perlindungan Data Pribadi, Larang Akses Negara Lain
Selasa / 23-06-2026, 06:00 WIB






