Sebuah terobosan baru dalam diagnosis demensia hadir dari Washington University School of Medicine di St. Louis.

Para peneliti mengembangkan tes darah bernama GPND-AI yang mampu mendeteksi beberapa jenis demensia sekaligus, bukan hanya satu penyakit.

in1

>>> OnePlus Nord 6 vs iQOO Neo 10: Pilih Ponsel Snapdragon 8s Gen 4 Mana?

Tes ini menggunakan model kecerdasan buatan yang dilatih pada 15 protein darah. Protein-protein tersebut dipilih dari 123 kandidat awal yang terkait dengan penyakit neurodegeneratif.

GPND-AI dapat membedakan Alzheimer, Parkinson, demensia frontotemporal, demensia dengan badan Lewy, serta penuaan otak yang sehat.

Saat diuji terhadap jaringan otak hasil otopsi, prediksi alat ini cocok dengan patologi fisik dengan akurasi 92,3%.

Mengatasi Diagnosis Tunggal yang Tidak Akurat

Dr. Carlos Cruchaga, penulis senior studi tersebut, menjelaskan bahwa banyak pasien saat ini hanya diberi satu diagnosis seperti Alzheimer atau Parkinson.

Padahal, otak mereka sering menunjukkan campuran beberapa penyakit.

Alat yang ada sebelumnya tidak dirancang untuk menangkap kompleksitas tersebut. GPND-AI memberikan gambaran proporsional tentang semua penyakit neurodegeneratif utama yang terjadi secara bersamaan pada seseorang.

Panel protein akhir mencakup p-tau217, yang sudah menjadi penanda utama untuk tes Alzheimer.

Namun, panel baru ini menggabungkannya dengan penanda darah yang melacak kerusakan sinapsis, cedera saraf, dan neuroinflamasi.

Validasi dengan Jaringan Otak Nyata

Tim peneliti melatih pengklasifikasi pada data protein darah dari lebih dari 3.200 orang.

Kelompok ini mencakup pasien dengan diagnosis klinis Alzheimer, Parkinson, demensia frontotemporal, demensia dengan badan Lewy, dan kontrol sehat.

Untuk memvalidasi, mereka menguji pada 225 orang yang telah menjalani penilaian kognitif saat hidup dan menyumbangkan otak untuk otopsi.