>>> HONOR X80 Pro Max Resmi: Baterai 11000mAh, Snapdragon 6 Gen 5, IP69K

Sehingga harga emas masih berpotensi menguat lagi ke depannya," kata Ariston.

in1

Ariston menilai penurunan harga saat ini dapat menjadi momentum berharga bagi investor untuk mengoleksi komoditas ini demi investasi jangka panjang dua hingga tiga tahun mendatang.

Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin menambahkan, pelandaian ekspektasi inflasi global memicu aksi ambil untung (profit taking) investor pada instrumen emas.

"Namun, (investasi di emas fisik) kurang cocok untuk jangka pendek karena spread atau selisih harga cukup lebar, yakni saat ini di kisaran Rp 267.000 per gram," kata Nanang.

Nanang memandang emas fisik seperti Antam lebih tepat bagi tipe investor konservatif demi perlindungan nilai kekayaan dengan jangka waktu di atas tiga hingga lima tahun.

Bagi mereka yang menginginkan horizon investasi jangka pendek hingga menengah, emas digital atau emas spot dinilai lebih menjanjikan karena menawarkan likuiditas tinggi dan biaya transaksi rendah.

Nanang menganjurkan strategi pembelian berkala melalui metode dollar cost averaging (DCA) untuk investor baru yang memanfaatkan koreksi harga saat ini.

Sedangkan bagi pemilik emas lama, disarankan untuk tetap mempertahankan portofolio atau menambah kepemilikan secara bertahap saat harga melemah (buy on weakness) untuk menurunkan rata-rata harga beli.

Dalam jangka pendek, Ariston memperkirakan harga emas spot bisa melaju ke level US$ 4.000 per ons troi jika ekspektasi kenaikan suku bunga AS menguat.

Dampaknya, harga emas Antam berisiko jatuh ke kisaran Rp 2,5 juta per gram.

Namun, Nanang memproyeksikan bahwa tren jangka panjang komoditas ini tetap bullish.

>>> Arron Bryan Juarai Future Fashion Designer 2026, Bawa Pulang Rp 50 Juta

Emas spot berpeluang menguji kisaran US$ 4.500 hingga US$ 4.700 per ons troi, sementara emas Antam diprediksi menguat ke rentang Rp 2,85 juta hingga Rp 3 juta per gram pada akhir 2026.