Akses masyarakat terhadap layanan keuangan formal di Indonesia terus meluas. Data terbaru menunjukkan indeks inklusi keuangan telah mencapai 80,51 persen.

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang digelar OJK bersama BPS mencatat indeks literasi keuangan berada di angka 66,46 persen.

in1

>>> Cara Mudah Nonaktifkan Game Bar Samsung TV yang Mengganggu

Perluasan ini membutuhkan penguatan kesehatan finansial.

Secara global, World Bank Global Findex Database 2025 melaporkan 79 persen orang dewasa memiliki akun keuangan. Namun, hanya 56 persen yang memiliki dana darurat.

Pertumbuhan ekosistem digital menggeser perhatian pelaku industri, regulator, dan organisasi internasional. Fokus kini diarahkan pada pembangunan ketahanan finansial, bukan sekadar perluasan akses.

Isu ini mengemuka dalam diskusi Financial Health and Resilience: The Next Frontier of Inclusion di The 2026 Asia Grassroots Forum.

Forum tahunan inisiasi Amartha Financial ini mempertemukan pembuat kebijakan, pelaku industri, dan investor global.

Upaya penguatan ketahanan finansial berkaca pada kunjungan H.M. Queen Máxima of the Netherlands ke Indonesia pada 2025.

Langkah awal dilakukan dengan memahami kebutuhan nyata masyarakat di tingkat akar rumput.

Menurut Nancy Widjaja, Policy Advisor Office of the United Nations Secretary-General's Special Advocate for Financial Health (UNSGSA), advokasi nasional dan global harus berlandaskan data kredibel.

"Pada akhirnya, semua kembali kepada masyarakat akar rumput. Memahami kebutuhan mereka menjadi langkah awal untuk merancang kebijakan, produk, dan kolaborasi yang relevan," ujar Nancy.

>>> Samsung Akhirnya Luncurkan One UI 8.5 untuk Galaxy A24

Nancy menambahkan, pemahaman mendalam terhadap kendala di lapangan membantu pemangku kepentingan menghadirkan solusi. Langkah ini tidak hanya memperluas akses tetapi juga mendongkrak kualitas hidup secara berkelanjutan.