Lemari pakaian yang penuh sesak bukan hanya soal ruang penyimpanan, tetapi juga meninggalkan jejak kerusakan lingkungan yang cukup besar.

Berdasarkan survei Indikator Politik Indonesia pada 2022 terhadap 733 responden, sandang menjadi komoditas yang paling sering dibeli oleh 65,7 persen masyarakat.

in1

>>> Waspada! Situs Taruhan Palsu Piala Dunia 2026 Jadi Senjata Phishing

Riset berjudul Unravelling the Service Lifespan of Garments mengungkapkan bahwa rata-rata isi lemari saat ini mencapai 199 potong pakaian, namun sebagian besar jarang dipakai.

Setiap lembar pakaian mengonsumsi air, energi, dan bahan baku dalam jumlah besar sejak proses produksi. Ketika pakaian hanya menumpuk tanpa digunakan, beban lingkungan menjadi tidak sebanding dengan manfaatnya.

Persoalan serius berlanjut pada penumpukan limbah tekstil.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat sampah tekstil menyumbang 2,63 persen dari total komposisi sampah nasional di Indonesia pada 2024.

Aktivitas thrifting atau berbelanja pakaian bekas sering dianggap sebagai solusi ramah lingkungan. Namun, langkah ini belum menyelesaikan akar masalah konsumsi berlebih.

Baju bekas hanya berpindah tangan tanpa menurunkan intensitas belanja. Harga murah bahkan berisiko memicu belanja impulsif, sehingga volume pakaian yang dibeli tetap tinggi.

>>> Ruben Onsu Unggah Video Lama, Singgung Giorgio Antonio Saat Momen Bertemu Anak

Sejumlah riset menegaskan cara paling ampuh menekan dampak lingkungan adalah dengan meningkatkan frekuensi pemakaian baju. Semakin sering dipakai, jejak karbon per penggunaan akan semakin kecil.

Standar Pemakaian Minimal dari Uni Eropa

Uni Eropa melalui panduan PEFCR for Apparel and Footwear menetapkan standar pemakaian minimum untuk berbagai jenis sandang.

Kemeja dan blus sebaiknya dipakai minimal 40 kali, kaos 45 kali, celana dan rok 70 kali, hoodie dan cardigan 85 kali, serta jaket dan mantel minimal 100 kali.

Metode sederhana untuk memulai pelestarian adalah memantau frekuensi pemakaian koleksi pribadi. Misalnya, seseorang dengan 100 setel pakaian yang masing-masing dipakai lima kali setahun menghasilkan 500 kali pemakaian.

Sebaliknya, individu dengan 20 pakaian yang dipakai 30 kali per setel dalam setahun mencapai total 600 kali pemakaian, yang terbukti lebih efisien.

>>> Update Terbaru Minecraft Patch 26.3: Dappled Forest September 2026

Keberlanjutan lemari pakaian tidak diukur dari jumlah baju, melainkan seberapa optimal setiap helai dimanfaatkan oleh pemiliknya.