Garis waktu media sosial belakangan ini ramai dengan keluhan warganet yang merindukan keberadaan kunang-kunang.

Fenomena semakin sulitnya menemukan serangga bercahaya ini di malam hari ternyata memiliki penjelasan ilmiah yang mengkhawatirkan.

in1

>>> Cara Daftar Program Kualifikasi Akademik S1 dan D4 Guru via SIPKA-GURU

Dosen dan peneliti entomologi dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Prof drh Upik Kesumawati Hadi, mengungkapkan bahwa kelangkaan serangga tersebut merupakan alarm bahaya.

Ketidakberadaan hewan ini menjadi petunjuk kuat bahwa ekosistem bumi sedang mengalami kerusakan.

“Kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang keberadaan atau ketidakhadirannya dapat mencerminkan kesehatan suatu ekosistem.

Ketika kualitas lingkungan memburuk, populasinya akan cepat menyusut bahkan menghilang,” jelasnya dalam siaran pers IPB, Minggu, 21 Juni 2026.

Ancaman ini telah menjadi isu lingkungan global.

Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN), sekitar 11 hingga 20 persen spesies kunang-kunang di dunia yang telah dievaluasi kini berstatus terancam.

Beberapa spesies asli Asia Tenggara yang bermukim di kawasan mangrove Indonesia, Malaysia, dan Thailand bahkan sudah masuk kategori rentan punah.

“Di Indonesia sendiri, berbagai kajian entomologi menunjukkan populasi kunang-kunang mengalami penurunan drastis, terutama di wilayah perkotaan.

>>> Polres Jakarta Utara Tahan Selebgram Adam Deni Terkait Kasus Pengrusakan Ruko

Serangga bercahaya ini sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, mulai dari perubahan kelembapan tanah hingga pencemaran,” ujar Upik.

Faktor Utama Penurunan Populasi

Faktor utama dari krisis ini adalah hilangnya habitat alami.

Lahan hijau, rawa, dan persawahan kini banyak dialihfungsikan menjadi kawasan industri serta perumahan, padahal larva kunang-kunang sangat bergantung pada tanah lembap untuk berkembang biak.