Penggunaan lampu LED super terang di era modern juga memicu polusi cahaya. Kondisi tersebut mengaburkan sinyal cahaya kunang-kunang jantan kepada betina, sehingga proses reproduksi mereka mengalami kegagalan.

Faktor pendukung lain meliputi penggunaan insektisida kimia secara berlebihan, kemarau panjang akibat krisis iklim, semenisasi saluran air, hingga laju urbanisasi.

in1

Saat ini kunang-kunang hanya bisa bertahan di lokasi yang asri, lembap, serta minim polusi seperti area mangrove, pinggiran sungai alami, persawahan tradisional, perkebunan organik, dan lantai hutan tropis.

Upik mewanti-wanti bahwa generasi mendatang mungkin hanya bisa melihat cahaya kunang-kunang melalui layar gawai, buku, atau museum jika perusakan alam terus dibiarkan.

Upaya penyelamatan dapat dimulai dari pekarangan rumah dengan menyisakan tanah resapan air, meredupkan lampu luar ruangan pada malam hari, beralih ke pupuk organik, serta menjaga kebersihan sungai.

>>> Djarum Foundation Gelar Women Soccer Trilogy 2026 di Kudus

“Kelestarian kunang-kunang sangat bergantung pada kelestarian habitatnya. Menjaga lingkungan berarti juga menjaga agar cahaya alami kunang-kunang tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang,” pungkasnya.