Lengan pendek Tyrannosaurus rex selama puluhan tahun menjadi bahan tertawaan dan teka-teki bagi para paleontolog.

Namun, sebuah teori baru mengklaim bahwa lengan tersebut bukanlah sisa evolusi yang tak berguna, melainkan senjata mematikan.

in1

>>> Spanyol Raih Kemenangan Perdana di Piala Dunia 2026 Usai Hajar Arab Saudi 4-0

Steven Stanley, paleontolog dari University of Hawaiʻi at Mānoa, mempresentasikan teorinya dalam konferensi Geological Society of America di Seattle.

Menurutnya, lengan sepanjang sekitar satu meter itu adalah alat berburu yang dirancang khusus untuk mencabik-cabik mangsa.

Perdebatan Ilmiah Seputar Lengan T. rex

Selama ini, tiga teori utama mendominasi: lengan sebagai sisa evolusi, alat bantu kawin, atau penyeimbang saat bangun. Stanley menolak semua teori tersebut.

Ia berpendapat bahwa sendi lengan T.

rex mampu bergerak ke berbagai arah, memungkinkan dinosaurus ini menancapkan cakarnya ke punggung mangsa dan membuat empat luka dalam dalam sekejap.

Argumen Stanley diperkuat oleh fakta bahwa tyrannosaurus kehilangan satu dari tiga cakarnya seiring evolusi. Dua cakar yang tersisa mampu memberikan tekanan 50 persen lebih besar daripada nenek moyangnya.

Ia juga menunjuk pada theropoda besar lain yang menggunakan kaki depan untuk merobek leher mangsa. Mengapa T.

rex harus menjadi pengecualian?

Bantahan dari Ilmuwan Lain

Jakob Vinether, paleobiolog dari University of Bristol, menyebut teori Stanley tidak masuk akal. Menurutnya, lengan pendek itu lebih mungkin digunakan untuk perilaku pelengkap seperti kawin.

>>> Spanyol Hajar Arab Saudi 4-0 di Piala Dunia 2026

Stanley membalas bahwa menggunakan cakar tajam saat kawin justru akan berbahaya bagi kedua pihak.

Thomas Holtz, spesialis T. rex dari University of Maryland, mengemukakan keterbatasan mekanis.